Hampir tak satupun orang Indonesia yang tidak mengetahui bahwa 21 April adalah hari kelahiran Kartini, anak putri Bupati Jepara yang dikokohkan sebagai pahlawan nasional Indonesia karena pemikirannya untuk memperjuangkan pendidikan bagi perempuan. Kartini memang baru menjajaki tararan pemikiran karena Sekolah Kartini baru berdiri 8 tahun setelah meninggalnya beliau. Perjuangan pemikirannya justru terlaksana oleh Dewi Sartika dengan berdirinya Sakola Istri di tahun 1904 (tahun ketika Kartini wafat). Namun malangnya gagasan yang mulia tentang pendidikan bagi perempuan[1][2] diartikan secara sempit sebagai emansipasi.
luna… tragedi play with beauty
10 April, 2008siapa tidak kenal luna? gadis lugu berperangai menawan dan baik hati yang berubah 180 derajat menjadi gadis yang memukau banyak pria sejak menemukan batu berwarna ungu yang ternyata adalah sabun kecantikan. penampilannya yang sopan dengan baju panjangnya hilang sejak ia bermain dengan kecantikan sabun. berganti dengan penampilan yang waw dan membelalakkan mata para lelaki.
luna adalah tragedi tentang sebuah pencitraan akan kecantikan. kebobrokan mental dan kerapuhan kepribadian. berbicara tentang kepercayaan diri, sudah seharusnya kepercayaan diri dipupuk dari dalam diri, bukan dipoles dari penampilan yang malah mengundang kerusakan yang lebih besar.
luna, sayangnya hanya sebuah boneka dari sandiwara besar meruntuhkan moral para perempuan. pembebasan yang diusung oleh kaum liberal terhadap wanita pada akhirnya kelak menjauhkan para wanita dari posisi yang seharusnya yaitu yang dimuliakan menjadi yang dihinakan.
jika istri minta keluar rumah
19 Desember, 2007“mas, aku kan bosan di rumah saja”
“trus maunya de, bagaimana?”
“maunya keluar rumah gitu, dapat pengetahuan dan pengalaman baru, nggak stuck dengan ibu-ibu erte yang doyan gosip itu, aduh. bisa tidak berkembang otak dan potensiku, mas”
“loh, bukannya waktu de untuk melakukan hal itu lebih banyak? mengapa tidak dilakukan?”
“abis, masih ada si kecil”
—
dilema menjalani kehidupan ibu rumah tangga pasti akan dirasakan oleh perempuan menikah yang pada masa lajangnya penuh dengan aktivitas luar rumah. ketika dengan “terpaksa” berada di rumah saja akan seperti sebuah “pengekangan” dan “pembunuhan” potensi, sehingga menimbulkan persepsi “kekerasan dalam rumah tangga” karena “merasa dilarang” untuk melakukan aktivitas di luar rumah. padahal tidak semua suami mengekang, membunuh potensi, memaksa atau melarang istrinya dalam beraktivitas. persepsi ini timbul karena budaya masa lalu masih melekat dalam benak masa kini. dengan melihat budaya masa lalu, persepsi “menjadi ibu rumah tangga” akan selalu “menjadi ibu yang berada di rumah saja”.
siapa bilang perempuan tidak boleh beraktivitas? justru perempuan memiliki peran yang penting dalam pembentukan karakter manusia: anak-anaknya, dengan demikian jika tidak beraktivitas perempuan tidak membentuk karakter manusia melainkan memandulkan potensi tersebut. bahkan ibu kartini saja bilang bahwa pendidikan bagi kaum perempuan adalah bukan untuk menjadikan perempuan sebagai pesaing laki-laki tetapi sebagai persiapan bagi calon ibu: pendidik manusia yang pertama kali. jika perempuan tidak berpendidikan, bagaimana mungkin mereka dapat mendidik anak-anak mereka dengan baik?
sehingga ketika istri minta keluar rumah, haruslah sebagai sarana pendidikan, bukan untuk sekedar memenuhi kebutuhan pribadi (karena yg ini adalah tugas para suami). makanya dalam percakapan di atas, perempuan berpendidikan akan kembali memikirkan pengasuhan dan pendidikan anaknya apabila dia keluar rumah untuk beraktivitas. suami sebaiknya mendukung aktivitas istrinya jika itu bermanfaat bagi peningkatan kualitas kehidupan rumah tangga.
jika suami membantu istri
12 Januari, 2007Tak banyak para suami yang mau membantu istrinya, paling tidak begitu menurut survey kecil-kecilan yang saya lakukan. Secara ilmiah, survey diambil dari obrolan antara teman-teman yang sudah jadi suami maupun yang akan jadi suami, diskusi yang saya ikuti di dunia maya, ditambah dengan diskusi dengan istri saya yang sering mendengar atau jadi curhatan para ibu-ibu tentang kelakuan suaminya. Adapun yang dimaksud dengan membantu istri di antaranya adalah mengerjakan pekerjaan rumah tangga (mengurusi pakaian kotor, membersihkan rumah dan perabotan, memasak makanan), berbelanja kebutuhan rumah tangga, mengurusi dan mendidik anak.
Entah apa yang ada di dalam benak masing-masing suami terhadap “membantu istri”, ada yang bilang bahwa itu semua pekerjaan perempuan. Saya ingat tentang pendapat seorang ahli yang saya lupa namanya, bahwa keluarga yang dibangun memiliki 2 macam:
1) memisahkan peran dan tanggung jawab antara suami dan istri. Macam yang ini juga terbagi 2 yaitu:
a) peran suami di luar rumah lebih besar daripada istri
b) peran istri di luar rumah lebih besar daripada suami
2) menyeimbangkan peran dan tanggung jawab antara suami dan istri. Macam yang ini berusaha secara adil dan melihat kondisi, peran siapa yang dapat lebih besar, dan dapat saling melengkapi satu sama lain.
Secara sejarah, macam yang pertama merupakan warisan nenek moyang dimana para lelaki berburu dan berperang, para perempuan berkebun, menyiapkan makanan dan mengurus anak. Sedangkan macam yang kedua hadir sebagai kebutuhan budaya, kesadaran akan kesetaraan, dan keimanan.
Ketika sejarah mencatat bahwa nilai perempuan di mata lelaki tidak berarti, dianggap menyusahkan dan tidak produktif, bahkan menjadi tempat pemuasan nafsu belaka, sejarah juga mencatat bahwa perempuan dihormati 3 kali daripada lelaki, kedudukannya di mata Allah adalah setara sehingga harkat dan martabat perempuan terangkat, peran perempuan dan laki-laki sama dalam melahirkan peradaban yang berbudaya.
Nabi sendiri amat mencintai istri-istrinya dan menempatkan mereka pada kedudukan yang terhormat dan mulia. Di saat tidak berperang, beliau mencari nafkah, memasak untuk kebutuhan makanan keluarga sampai-sampai beliau menjahit sendiri pakaian dan sandalnya yang putus talinya. Nabi juga mencintai anak-anak dan cucu-cucunya, mengurusi mereka tatkala ibu mereka sedang sibuk, dan berperan besar dalam mendidik mereka menjadi generasi yang kuat dan tangguh.
Pada masa beliau, peran perempuan menjadi jelas dan nyata, eksistensi perempuan menjadi lebih kentara dan diakui seiring dengan produktifitas karya yang dibuat oleh kaum perempuan. Dengan begitu perempuan menyadari posisinya sebagai pendamping laki-laki dalam membesarkan dan mendidik generasi, sehingga para perempuan dengan senang hati dan ikhlas karena Allah, membantu tugas suami dalam menjalankan roda rumah tangga.
Belajar dari cara Nabi dan para sahabat dalam mengurusi rumah tangga, suami tidak sepatutnya menuntut banyak hal kepada istrinya di luar kemampuan mereka. Justru ketika suami mengabdikan dirinya dalam mengurusi rumah tangga, para perempuan salihah itu akan serta merta berpartisipasi. Ini merupakan bentuk pendidikan keluarga, dimana anak-anak akan melihat bagaimana ayah mereka memuliakan ibu mereka, kelak mereka juga akan memuliakan perempuan. Sebaliknya jika suami tidak berbuat demikian, sangat mungkin keluarga yang dibangun akan kehilangan kebahagiaan dan berpotensi gagal dalam melanjutkan pelayaran kehidupan berkeluarga.
Saya berterima kasih kepada Allah yang memberikan orangtua yang mendidik saya untuk memuliakan perempuan sebagaimana juga merupakan ajaran dari Nabi-Nya, dengan begitu saya berusaha untuk menerapkannya dalam kehidupan rumah tangga saya dengan membantu istri dan berusaha mewujudkan keluarga yang salih. Maka ketika saya pulang ke rumah, satu hal yang paling membahagiakan diri saya adalah saya diakui sebagai suami sekaligus ayah.
[lesson on 12012007]
perempuan itu cantik 3
19 Mei, 2004sudah lihat acara baru yang judulnya Indonesian Model? sebenarnya bukan barang baru, produk lama tapi dikemas baru. Kalo kamu yang punya langganan TV kable di rumah pasti kenal sama Fashion TV, yang tidak bosan mengobral tubuh perempuan (dan sedikit laki-laki) sebagai model fashion. Kebanyakan dari para model itu “cantik”.
Sampai sekarang masih ada perlombaan Miss World, Miss Universe, dll. Indonesia pernah mengadakan ratu kecantikan, tetapi tidak ada lagi sejak para pemenang ratu kecantikan itu akan didaftarkan sebagai kontestan Miss World. Memang sih, tidak hanya kecantikan fisik yang dinilai, ada begitu banyak penilaian… tetapi jauh lebih banyak yang berkaitan dengan fisik.
Sempet ngikutin telenovela “Yo Soy Betty La Fea” yang bercerita tentang perusahaan busana Ecomoda, sayang sang sekretaris adalah Betty si buruk rupa. Trus oleh semangat yang dipompakan oleh seorang relasi yang baik, Betty menjadi cantik (ini sih emang bintang filmnya yang cantik di bikin jelek, aza), dan memimpin Ecomoda dari kehancuran.
Eh, ternyata sinetron Indonesia ada yang ikutan cerita beginian. Tapi jarang banget ya sinetron kita yang pemeran perempuannya tidak cantik? Pasti obral kecantikan.
Diperparah lagi dengan iklan televisi, mulai dari: “Amboy, daripada baju dibesarkan, lebih baik perut dikecilin”; “pengen langsing, dimeritin aja”; “andalah sang putri salju”; “pas susunya”; “coba merah”; dsb.
akhirnya, terlalu banyak perempuan yang frustasi akibat kecantikan itu. Sempat beberapa waktu lalu ada seorang ibu yang ingin hidungnya dibuat mancung akhirnya malah melar seperti buah mangga, karena salah komposisi silikon. Waduh, kenapa perempuan itu tidak bersyukur sih?
—
(bersambung)
perempuan itu cantik 2
14 Mei, 2004masih lanjutan tulisan yang kemarin…
siapa sih perempuan yang ga mau dibilang cantik? hampir tak ada! semua perempuan yang pernah hidup di dunia mengakui bahwa mereka ingin dikatakan cantik, bahkan yang “tidak cantik” pun ingin cantik.
Sering kita lihat pasangan-pasangan insan yang menurut kita “tidak tampan-cantik” tetapi mereka mampu menjalani hidup sebagai pasangan kekasih. Bahkan ada pula yang tidak bisa dikatakan buruk rupa (karena lebih buruk) mereka bisa saling menerima. Lalu dimana letak “kecantikan” itu?
Ternyata “kecantikan” adalah sebuah persepsi, yang masing-masing orang boleh berbeda.
Tetapi ada kesepakatan tentang kata “cantik” secara fisik, adalah perempuan yang wajahnya putih bersinar, kulitnya putih berseri, rambutnya hitam panjang lurus bak mayang terurai, hidungnya mancung, dagunya lebah bergantung, alis matanya semut beriring, bulu matanya lentik, lehernya jenjang, tinggi dan berat badannya proporsional, tubuhnya slimmy, telapak kakinya proporsional, pandai merawat diri, buah dadanya seimbang …
waduh, makin berkhayal yang gak-gak…
tapi kamu sepakat kan, kalau menemukan perempuan seperti itu pastilah perempuan yang cantik? Sedikit di bawah cantik, agar tidak mengatakan “tidak cantik” adalah kata-kata “manis”, “menarik”, “sedap dipandang mata”.
bicara tentang telapak kaki, ada kisah di Cina, bahwa perempuan-perempuan yang hendak dipersembahkan sebagai gundik raja ataupun dipersiapkan sebagai permaisuri dan putri kerajaan, kaki mereka dibungkus dengan sepatu yang rapat dan kencang sedari usia muda, agar kelak kaki mereka kecil… hehehehe… (ga logis banget ya? tapi ini bener lho!)
kembali ke masalah, perempuan-perempuan yang “tercipta” untuk cantik, patutlah bersyukur karena mereka cantik secara fisik. Lalu bagaimana dengan mereka yang tercipta “tidak cantik”? Sampai saat ini, mereka terus menerus berusaha untuk kelihatan dan menjadi “cantik”, sehingga kita akan menemukan perempuan yang menggunakan make-up berlebihan, cantik sih… cuma kelewatan, bisa bikin “njelehi”
kecuali perempuan-perempuan yang sadar, bahwa mereka memiliki potensi kecantikan lain…
(we will talk about this later…)
Oleh karenanya kita juga bisa melihat perusahaan-perusahaan kosmetika, berlomba-lomba berinovasi kecantikan, untuk membuat konsumen mereka yaitu para perempuan, terlihat cantik. Dari bedak, alas bedak, lipstik, eyeshadow, lulur, body lotion, pelembab muka, shampoo, dan semuanya yang ada di salon kecantikan, pedicure, manicure, dll. tersedia untuk mme-permak perempuan terlihat cantik.
Tidak hanya kosmetika, ternyata perusahaan nutrisi juga membuat formula untuk kelangsingan tubuh. Ada ketakutan dari para perempuan itu kalau bertubuh “gemuk” atau besar. Maka muncullah istilah “diet” untuk melangsingkan tubuh dalam waktu cepat.
(ini juga salah kaprah: diet dalam bahasa medis adalah pengaturan pola makan yang sehat, baik dan teratur, diikuti oleh olahraga yang seimbang).
Perlombaan itu dimulai dari peragaan model untuk busana…
(bersambung)
perempuan itu cantik 1
13 Mei, 2004kenapa pake judul ini sih? maunya sih ngajak ngobrol tentang perempuan. terutama dari sisi pandang aku sebagai laki-laki…
kata “perempuan” sudah merupakan satu kata utuh dan asli, bukan bentukan kata dasar “empu” yang diberi imbuhan “per-an”. Tapi kalau pun mau kita telusuri ke akar katanya, kita akan temukan bahwa “empu” adalah sebuah gelar kehormatan yang diberikan kepada seseorang yang tingkat sosialnya lebih tinggi. Ini berbeda sekali dengan kata “wanita” yang memiliki tingkat makna yang lebih rendah daripada “perempuan”.
Penggunaan kata “wanita” secara bahasa justru merendahkan, tetapi gaya ameliorasi telah mengangkat derajat kata tersebut menjadi sejajar dengan makna “perempuan”, kebalikannya kata “perempuan” mengalami gaya peyorasi yang menurunkannya ke derajat yang lebih rendah.
Namun alangkah indah jika kita back to origin, kembali ke fitrah, memaknai perempuan sebagaimana adanya.
—
wanita dijajah pria sejak dulu …
larik syair ini hendak menggambarkan suatu bentuk ketidaksetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam kehidupan di dunia. Kita bisa tengok kembali ke dalam sejarah, betapa banyak perempuan yang tidak beruntung nasibnya dan menjadi cemoohan oleh sebab budaya patriarkhi yang dianut umat manusia.
dalam Bibel digambarkan bahwa perempuan tak ubahnya pelayan bagi laki-laki, bahkan mereka rela bersundal demi kepuasan dirinya. Begitu pula dalam Weda, perempuan hanyalah perhiasan yang tidak terlalu dihargai. Dalam budaya-budaya patriarkhi, perempuan sangat tidak dihargai, mereka hanya mendapat porsi: dipermainkan, dihamili, disuruh momong bocah, lemah, dan tidak diperkenankan melawan laki-laki.
dalam Quran juga diberitahu bahwa sebelum Islam datang, perempuan adalah budak laki-laki yang bisa dijual-beli dan dipertukarkan, bayi-bayi perempuan dikubur hidup-hidup, perempuan tidak mendapat tempat dalam balai masyarakat. Namun gerakan fitrah yang diinspirasikan Quran telah mengangkat derajat perempuan jauh melampaui laki-laki.
—
(bersambung)
Ditulis oleh andi
Ditulis oleh andi
Ditulis oleh andi 