[keluarga] confession

31 Juli, 2008

Tersadar di dalam sepiku, setelah jauh melangkah.
Cahaya kasihmu, menuntunku kembali dalam dekap tanganmu.

Terima kasih cinta untuk segalanya, kau berikan lagi kesempatan itu.
Tak akan terulang lagi semua kesalahanku, yang pernah menyakitimu.

Tanpamu tiada berarti, tak mampu lagi berdiri.

Lagu Terima Kasih Cinta yang dinyanyikan oleh Afgan dalam album Confession No. 1 tersebut menjadi populer karena liriknya yang jujur dan lantunan musiknya yang menggugah perasaan. Keterbukaan sangat diperlukan dalam rumah tangga, jika tidak biduk yang kita kayuh serasa
hampa mengarungi masa.

Kesalahan manusia terhadap Tuhannya tentu dihapuskan dengan cara taubat yaitu pengakuan dan tidak mengulanginya lagi. Maka kesalahan sesama manusia dihapuskan dengan saling terbuka, jujur, percaya, dan saling memaafkan. Mudah-mudahan kehangatan berumah tangga menjadi keseharian dalam hidup kita.


[keluarga] hadapi dengan senyum

23 Juli, 2008

Teman,
sesungging senyuman ternyata dapat menyembuhkan duka lara di hati kita yang gundah gulana. Ketika kedatangan kita ke rumah disambut dengan senyuman oleh anak-anak dan pasangan hidup kita, lepaslah segala penat yang membebani pundak dan kepala kita. Ketika kepergian kita bekerja dilepas dengan senyuman oleh mereka, ringanlah setiap langkah kaki menuju tempat kita mencari nafkah.

Keluarga menjadi tempat yang paling indah setelah seharian berpeluh dengan kerja, intrik, siasat, dan politik. Senyuman yang tulus menjadi pelega dan penghangat suasana. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa tidak selamanya keluarga kita mampu menghadirkan senyumnya untuk kita. Adakalanya pasangan hidup dan anak-anak menambah beban pikiran dengan ulah dan masalah mereka.

Pada saat itulah kita menyadari bahwa tidak hanya kita yang memiliki permasalahan hidup. Setiap anggota keluarga adalah pribadi yang juga memiliki permasalahan hidup masing-masing. Apalagi anak-anak kita yang sedang belajar menyelesaikan masalah, merangkak untuk menjadi manusia seutuhnya, membutuhkan bantuan orangtua mereka, setidaknya sebuah senyuman.

Mari hadapi permasalahan keluarga dengan senyuman, dan selamat Hari Anak Nasional 2008!


[keluarga] sulitnya minta maaf

16 Juli, 2008

Teman,
Barangkali ketika kecil kita tidak terbiasa melihat orangtua kita meminta maaf kepada kita. Malah selalu harus kita yang minta maaf kalau perilaku kita dianggap salah oleh orangtua. Padahal saat itu kita sendiri bingung mengapa kita dianggap bersalah karena orangtua tidak pernah menjelaskan hal itu. Boleh jadi kesalahan itu karena orangtua tidak menyampaikan pesan dengan jelas sehingga kita sebagai anak kecil tidak menangkap pesan dengan benar. Mungkin juga karena
kita belum dapat mendefinisikan perilaku tersebut sebagai sebuah kesalahan.

Mudah-mudahan ketika kita menjadi orangtua tidak perlu mengulangi kesalahan yang sama: selalu menuntut anak meminta maaf. Justru sebagai orangtua harus mulai belajar mendahului minta maaf kepada anak, sehingga anak dapat belajar apa yang salah dan apa yang benar, mana
yang perlu dimintakan maaf dan mana yang perlu diberikan maaf.

[thanks to raka, my two year old son, for accept my apologies]


keluarga berencana

7 Juni, 2008

“sudah menikah?”
“sudah”
“sudah ada anak?”
“alhamdulillah, mau dua”
“yang besar usia berapa?”
“baru dua tahun”
“calon adiknya?”
“insya Allah empat bulan lagi dilahirkan”
“wah cepat sekali punya adik”
“alhamdulillah dikasih sama Allah”
“yang pertama, baru nikah langsung isi?”
“eh, dikasih waktu pacaran dulu, hehe”
“oh, ternyata, emang usia adik berapa?”
“masih 28 om”
“masih muda, kok buru-buru nikah, anak udah mau dua pula?”
“_”


dialog berikutnya


bahagia tanpa televisi

10 April, 2008

boleh dibilang televisi ada manfaat dan mudaratnya, tetapi sejauh ini mudaratnya jauh lebih besar daripada manfaatnya. tidak seperti khamar yang pada akhirnya diharamkan oleh Tuhan, televisi adalah sebuah alat yang tergantung dari penggunaannya. penyalahgunaan televisi dapat menyebabkan statusnya berubah dari boleh menjadi haram. seperti halnya pisau, boleh digunakan untuk memotong bahan makanan, tetapi haram digunakan untuk membunuh manusia :)

sejak awal kami mencoba meminimalisasi keberadaan televisi di rumah. tetapi orang tua kami terlalu sayang sehingga meminjamkan salah satu televisinya untuk kami, supaya gak ketinggalan zaman, kata mereka. padahal alat mengejar ketinggalan zaman tidak melulu televisi, dapat saja berupa surat kabar, atau internet :) tetapi sebenarnya alasan utamanya adalah untuk menyenangkan hati mereka apabila datang ke rumah kami, karena ada saja sinetron yang sulit dilewatkan oleh mama atau acara yang disenangi oleh papa.

lepas dari kehadiran ortu, kotak televisi itu lebih sering nongkrong membisu di atas bufet jati di ruang keluarga rumah kami. kadangkala kami gunakan televisi untuk memutar dvd atau vcd yang bertema pendidikan usia dini, keluarga atau film aksi yang kami beli dari toko. sebenarnya selama ini keperluan menonton film itu dipenuhi dengan komputer, tetapi sejak raka putra kami yang berusia 2 tahun itu senang menonton film kartun anak-anak, kami merasa perlu menambah perangkat DVD player supaya ia tidak mengganggu ibunya yang sedang menyelesaikan pekerjaan desain rumah pesanan klien.

sempat ketika hari-hari diisi oleh hujan sehingga raka tidak dapat bermain keluar, ia pun disibukkan dengan menonton postman pat, cars, thomas and friends, atau baby genius.

sampai saat ini, kami berhasil memanfaatkan televisi dan mengambil manfaat dari kebisuannya. karena kami dapat lebih sering ngobrol sesama anggota keluarga, atau beraktivitas yang menghangatkan hubungan antara ayah-ibu-anak, serta terhindar dari pengaruh buruk televisi. alhamdulillah.

apalagi jika kedapatan acara yang berisi gosip, kekerasan, atau berita buruk, makin membuat kami berusaha menjauhi televisi. kami merasa bahagia tanpa televisi, kami dapat mengembangkan filter kami lebih rapat lagi dan kami dapat membuat rancangan aktivitas keluarga lebih menyenangkan, sebisa mungkin tanpa keterlibatan televisi.


jika istri minta keluar rumah

19 Desember, 2007

“mas, aku kan bosan di rumah saja”

“trus maunya de, bagaimana?”

“maunya keluar rumah gitu, dapat pengetahuan dan pengalaman baru, nggak stuck dengan ibu-ibu erte yang doyan gosip itu, aduh. bisa tidak berkembang otak dan potensiku, mas”

“loh, bukannya waktu de untuk melakukan hal itu lebih banyak? mengapa tidak dilakukan?”

“abis, masih ada si kecil”

dilema menjalani kehidupan ibu rumah tangga pasti akan dirasakan oleh perempuan menikah yang pada masa lajangnya penuh dengan aktivitas luar rumah. ketika dengan “terpaksa” berada di rumah saja akan seperti sebuah “pengekangan” dan “pembunuhan” potensi, sehingga menimbulkan persepsi “kekerasan dalam rumah tangga” karena “merasa dilarang” untuk melakukan aktivitas di luar rumah. padahal tidak semua suami mengekang, membunuh potensi, memaksa atau melarang istrinya dalam beraktivitas. persepsi ini timbul karena budaya masa lalu masih melekat dalam benak masa kini. dengan melihat budaya masa lalu, persepsi “menjadi ibu rumah tangga” akan selalu “menjadi ibu yang berada di rumah saja”.

siapa bilang perempuan tidak boleh beraktivitas? justru perempuan memiliki peran yang penting dalam pembentukan karakter manusia: anak-anaknya, dengan demikian jika tidak beraktivitas perempuan tidak membentuk karakter manusia melainkan memandulkan potensi tersebut. bahkan ibu kartini saja bilang bahwa pendidikan bagi kaum perempuan adalah bukan untuk menjadikan perempuan sebagai pesaing laki-laki tetapi sebagai persiapan bagi calon ibu: pendidik manusia yang pertama kali. jika perempuan tidak berpendidikan, bagaimana mungkin mereka dapat mendidik anak-anak mereka dengan baik?

sehingga ketika  istri minta keluar rumah, haruslah sebagai sarana pendidikan, bukan untuk sekedar memenuhi kebutuhan pribadi (karena yg ini adalah tugas para suami). makanya dalam percakapan di atas, perempuan berpendidikan akan kembali memikirkan pengasuhan dan pendidikan anaknya apabila dia keluar rumah untuk beraktivitas. suami sebaiknya mendukung aktivitas istrinya jika itu bermanfaat bagi peningkatan kualitas kehidupan rumah tangga.


rumahku panas!

8 Nopember, 2007

“bener deh, semua laki-laki sama!”

“lho, memangnya ada apa kok bisa-bisanya mbak bilang begitu?”

“ya iya lah, tadi mas andi kan cerita kalau kemarin pulang kantor kemalaman, karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan, apa nggak mikir kalau ada yang nungguin di rumah?”

“hehehe, saya sih lebih enak kalau sudah sampai di rumah gak ketemu sama kerjaan kantor, bercengkerama dengan keluarga jadi lebih asyik. makanya saya coba selesaikan di kantor”

“tapi itu pekerjaan gak bakalan pernah selesai, perempuan tuh maunya, laki-laki kalau sudah jamnya pulang ya pulang, gak usah pake alasan macam-macam buat terlambat pulang”

“bukan begitu, mbak. mungkin setiap laki-laki punya alasan berbeda. memang apa yang mendasari mbak mencak-mencak sama saya begitu? apalagi mbak cuma teman saya?”

mulailah perempuan itu bercerita tentang kondisi rumah tangganya karena suaminya yang selalu punya alasan terlambat pulang. saya coba menyimak baik-baik supaya apa yang saya katakan kepadanya nanti tidak melukai perasaannya. maklum perempuan, sama citra aja saya masih suka salah bicara, apalagi sama perempuan itu yang cuma teman biasa.

semua keluhan tentang kelakuan suaminya yang suka terlambat pulang terpampang di muka saya seperti cermin… hehehe, maklum saya kadang-kadang memang suka telat pulang. tetapi ya, itu tadi saya punya alasan yang jelas misalnya rapat yang selesai terlalu sore, atau ada tugas tiba-tiba yang harus saya siapkan karena dibutuhkan malam itu juga oleh bos, atau karena hujan: kalau yang ini saya katakan ke citra, “sayang, masak lebih suka mas sakit kehujanan daripada pulang sehat?” :)

nah, berkaitan dengan kelakuan suami teman itu, saya coba mengelus dada, tidak membenarkan dan tidak pula menyalahkan. tetapi saya coba mengarahkan pembicaraan, bahwa apa yang kita inginkan sebenarnya adalah cerminan dari apa yang kita lakukan.

mari bercermin, apa yang kita ingin lihat? wajah cantik menarik penuh senyum dan menawan? lalu apakah pada cermin terbayang hal-hal tersebut? apabila saat bercermin kita baru bangun tidur dengan rambut awut-awutan dan pakaian acak-acakan, tentu saja tidak akan kita lihat wajah cantik menarik penuh senyum dan menawan.

begitu pula, kalau kita ingin melihat pasangan kita memahami kita sesuai dengan keinginan kita, bukankah seharusnya kita bercermin, apakah kita sudah sesuai dengan apa yang ingin dilihat oleh si dia? kadang-kadang sulit karena masing-masing keras kepala! tidak ada yang mau mengalah!

“kan aku juga lelah, bayangkan harus mengejar-ngejar klien, naik turun tangga. pulang-pulang tidak mendapati suami di rumah. bagaimana tidak kesal? bisa-bisa piring terbang bersliweran ketika dia pulang, huh!”

waduh, hal ini dapat dipahami karena kurangnya komunikasi antara pasangan. banyak pasangan lupa bahwa menikah, justru harus memperbanyak komunikasi karena persoalan yang dihadapi jelas bertambah. bagi yang pernah pacaran, komunikasi lebih sering sekedar basa-basi. tetapi kalau sudah menikah, semua komunikasi adalah hal-hal matang yang ada konsekuensinya.

tak pelak lagi, sikap tidak mau mengalah bisa bikin rumah makin panas. cuma toleransi jawabannya: saling mendukung untuk hal-hal yang disepakati dan saling toleran untuk hal-hal yang sulit disepakati. Dalam kacamata islam: toleransi dibatasi dengan hal-hal yang sesuai syariah, sedangkan untuk hal yang diluar syariah hukumnya jelas: haram.

maka upaya saling memahami antara pasangan harus dimulai dari titik persamaan yang dimiliki oleh keduanya. akan sulit, namun pasti kecewa jika tidak dicoba. toh, pasangan yang sudah melalui Golden Anniversary saja masih ada sedikit ketegangan, apalagi yang baru menikah seumur jagung. alangkah sayangnya jika hal-hal yang tidak prinsip secara syar’i  merusak usia pernikahan kita?