[iim] waktu salat kita

23 April, 2008

Semua orang islam tahu bahwa salat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya[1]. Sekarang kita mudah mengetahui waktu salat dengan adanya jadwal waktu salat abadi yang dipakai kebanyakan masjid, kita juga dengan mudah menemukannya melalui piranti lunak atau internet[2]. Tetapi tahukah kita bahwa membuat jadwal waktu salat abadi itu tidak segampang menggunakannya? Butuh ilmu falak atau astronomi untuk memperhitungkannya.

Lalu bagaimana jika kita tidak menemukan jadwal waktu salat abadi tersebut apabila kita sedang dalam perjalanan? Atau bagaimana jika kita tidak memiliki kemampuan perhitungan astronomi? Apakah kita akan mengabaikan waktu salat?

[baca selanjutnya dong]


jangan pernah mengada-ada

6 Juli, 2007

kawan, di dalam hidup kita ada banyak hal. namun ada satu hal yang tidak dapat diterima oleh semua orang: mengada-ada. mengapa hal tersebut tidak dapat diterima? karena sesuatu yang mengada-ada tidak pernah masuk akal. boleh saja ia jadi sebuah dongeng, namun tidak akan pernah jadi kenyataan. boleh saja ia jadi sebuah fiksi, dan tak akan pernah jadi fakta.

mungkin juga pernah kita temukan orang-orang yang bermuka manis, sangat manis hingga terlalu manis untuk dilihat, didengar, dan dikatakan. kita dapat saja mengatakan bahwa itu mengada-ada. atau kejadian yang terlalu buruk, sangat buruk sehingga membuat kita tidak percaya, itupun mengada-ada.

lalu kita katakan apa adanya, gamblang, mudah, bersahaja. hingga orang lain setuju bahwa kita tidak mengada-ada.

begitupun dalam beragama, sudah patutnya kita tidak mengada-ada dengan menambah atau mengurangi perkara yang sudah diatur dalam agama. Supaya kita tidak disebut mengada-ada, supaya kita tidak ditolak, supaya kita mendapat kasih sayang Allah.

QS 3:31


mengapa melupakan?

29 Mei, 2007

Teman, tersebutlah kisah para penumpang kapal yang mengarungi lautan. Ketika kapal yang mereka tumpangi dihantam badai berbagai rasa muncul bertabur putus asa dan harapan. Lalu salah seorang dari mereka berseru agar memohon keselamatan kepada Allah. Kemudian Allah menyelamatkan kapal dan seluruh penumpangnya ke daratan. Tetapi setelah semuanya selamat, tidak ada seorang pun yang mengucapkan syukur dan mereka lupa kepada Allah.

Di saat kita mendapati kondisi putus asa, ketika tak ada lagi yang bisa kita harapkan untuk membantu kita, ketika semua jalan sudah buntu, maka Allah adalah satu-satunya harapan yang mampu mengeluarkan kita dari segala masalah. Namun kita masih sering meragukan kekayaan Allah untuk membebaskan kita dari masalah.

Teman, melupakan Allah itu mudah, namun melupakan kebaikan-Nya setelah kita bebas dari masalah adalah sebuah sikap durhaka. Marilah kita senantiasa menjadi hamba yang bersyukur dan jauh dari sifat durhaka atas semua kebaikan Allah.

QS 6:63-64, 17:67, 29:65, 31:32


jika Allah membayar kontan

18 April, 2007

Teman, pernahkah mengalami ketika menginginkan sesuatu tetapi tidak mendapatkannya? Semakin menginginkan, semakin pula sulit mendapatkannya? Merana? Tak perlu lagi! Karena apa yang kita inginkan belum tentu kita butuhkan. Tetapi ada cara yang lebih jitu mendapatkan apa yang kita butuhkan. (Mohon bedakan antara keinginan dan kebutuhan, ya)

Sebuah kisah nyata tentang seorang lelaki yang terpaksa memberikan tempat duduknya di bus kepada seorang perempuan muda. Bukan karena perempuan itu hamil atau membawa barang-barang berat. Bukan pula karena tidak ada penumpang lain yang mau menyerahkan tempat duduknya kemudian merasa iba. Tetapi karena ia merasa risih duduk dan melihat (maaf) perut pada celah antara baju potong dan celana ketat yang dikenakan perempuan itu.

Ternyata langkah yang diambil oleh lelaki itu sangat tepat, karena dia telah menyelamatkan matanya dari zina, dan menyelamatkan perempuan itu dari fitnah. Pada hari yang sama, lelaki itu menumpang angkot untuk pulang. Di dalam angkot dia bertemu dengan temannya. Tak dinyana, ongkos angkotnya dibayarkan oleh sang teman.

Cerita belum selesai, ketika turun dari angkot hari gerimis menjelang magrib. Lelaki itu masuk ke masjid untuk melaksanakan salat magrib berjamaah. Hujan deras turun ketika salat jamaah ditegakkan. Selesai berdoa, hujan mereda sehingga lelaki itu dapat berjalan pulang ke rumahnya. Hujan kembali deras sesampainya dia di rumah. Seperti dongeng, tapi nyata.

Lelaki itu menginginkan untuk tetap duduk, tetapi Allah mengetahui kebutuhannya membayar ongkos angkot. Lelaki itu menginginkan untuk pulang cepat, tetapi Allah memberinya kesempatan untuk shalat di rumah-Nya dan mengantarnya pulang dalam keadaan kering. Allah membalas kebaikan yang dilakukannya secara kontan.

Teman, si lelaki menginginkan sesuatu tetapi yang dia dapatkan bukan apa yang dia inginkan melainkan yang dia butuhkan. Yang mengetahui kebutuhannya dan pasti akan mencukupinya hanyalah Allah.

Jadi, buat apa merana jika keinginan kita tidak terpenuhi?


ketika diingatkan untuk kembali

20 Februari, 2007

seorang kawan bertanya kepada saya tentang sejauh mana sudah saya melangkah, apakah masih berada dalam barisan ataukah tak lagi bersama barisan. pembicaraan pun berlanjut dengan kisah-kisah sedih para pencari jalan. ada yang terseok-seok tak mampu menanggung beban. ada yang tercecer dan tak sempat lagi mengikuti kafilah kemudian tersesat. ada pula yang mengambil jalan sendiri mengendus-endus jejak pendahulu dengan berpegang kepada pedoman yang sahih.

apakah makna jamaah bagi anda, ketika ia tak lagi sekedar barisan shalat? tak lagi sekedar ikatan persaudaraan? tak lagi sekedar naungan ketika butuh saat teduh?

ketika diingatkan untuk kembali ke dalam barisan, saya merasa melihat begitu banyak barisan yang sedang menuju arah yang sama. tak perlu mengejar yang sudah jauh dan tak mungkin kita raih sendiri jika ada begitu banyak semangat yang sama. barangkali dengan mengikuti kafilah yang baru, kita dapat melangkah lebih jauh melampaui semua yang pernah kita tinggalkan?

sungguh indah akhlak orang beriman, ketika senang ia bersyukur, ketika susah ia bersabar.

ketika diingatkan untuk kembali, ketika itulah saya sadari masih ada yang mengasihi kita tanpa pamrih.

[jazakallah untuk mas puji]


agar qurban lebih bermanfaat

15 Desember, 2006

Tidak boleh dilupakan oleh kita bahwa qurban sebagai sebuah bentuk peribadatan umat Islam telah mengalami transformasi sejak jaman Nabi Adam as. hingga sempurna pada masa Nabi Muhammad saw. Dengan berqurban, manusia membuktikan ketaatannya kepada perintah Allah swt. sebagai Sang Pencipta. Dengan begitu, upacara qurban sendiri harus merujuk kepada ketentuan yang Allah dan Rasul-Nya tunjukkan kepada kita.

Selama bertahun-tahun, kita mengalami hari raya qurban yang begitu-begitu saja, datang ke panitia qurban dengan menuntun kambing atau sapi, kemudian disembelih dengan nama Allah dan takbir, dagingnya dibagi-bagikan kepada para tetangga dan orang-orang miskin. Namun sadarkah kita bahwa seiring waktu kondisi di sekitar kita telah membaik, sehingga tanpa kita sadari, hari raya adha kini menjadi pesta bagi orang-orang yang mampu? Sementara itu jauh dari tempat kita berada, di desa, di pelosok, di daerah bencana, di daerah yang kekurangan, makan daging kambing atau sapi sudah seperti menikmati hidangan surga?

Alhamdulillah, sejak hadirnya LSM keislaman yang tepercaya, qurban menjadi lebih bermanfaat dan lebih bermakna. Qurban tidak hanya dinikmati oleh orang-orang mampu, orang-orang kota, tetapi sampai ke desa, ke daerah bencana, ke daerah yang membutuhkan. Sebut saja program Tebar Hewan Kurban dari Dompet Dhuafa, Sebar Qurban Nusantara dari PKPU, dan SuperQurban dari Rumah Zakat Indonesia menawarkan asas kemanfaatan dari qurban kita. Bahkan RZI memberikan kemudahan baru membayar qurban dengan kartu kredit dan memaketkannya dalam bentuk kornet agar manfaat qurban dapat dirasakan lebih panjang.

Kemanapun kita berqurban, ingat selalu NIATKAN SEMATA KARENA ALLAH. Selamat berqurban!


buku berdebu itu

23 Mei, 2004

ketika kubuka kembali buku yang sudah berdebu itu, tertulis di sana 2 Rabiul Akhir 1420H. tak terasa sudah lewat 5 tahun sejak kumiliki buku itu, buku yang dahulu selalu menghiburku setiap harinya baik dikala gundah maupun dikala syukur. buku yang telah membuatku mencintai kehidupan, buku yang sempat mewarnai lembaran kisah hidupku, buku yang dahulu kucari-cari oleh sebab sulitnya mendapatkan dalam harga yang rendah. (karena beberapa waktu kemudian ketika aku mencarinya sebagai hadiah kepada temanku, kudapatkan harga yang lebih tinggi).

buku itu telah membuatku mabuk oleh cinta, bahkan sampai-sampai terbawa dalam tidurku. seringkali ibu bilang bahwa aku sering meracau dalam tidurku seperti membaca mantra yang tertuang dalam buku itu. tapi itu beberapa tahun yang lalu.

buku itu memang tidak berbicara dengan mother tongue-ku, tetapi ia berbicara dalam bahasa hati, bahasa cinta, bahasa surga. walau tidak kumengerti seluruh isinya, buku itu telah sempat menjadikan aku luluh dalam cinta.

kemarin, kucoba sentuh kembali buku yang sekian lama tidak kubuka. aku merasakan kerinduan merasuki seluruh sudut sarafku. aroma kerinduan yang tak terbendung lagi, jujur saja aku sama sekali jauh dari buku itu untuk beberapa waktu.

buku itu berdebu, kuseka dengan tanganku, kutiup debunya dari sampulnya, kularikan jari tanganku membuka-buka halaman demi halaman, kubaca kata demi kata lantunan kesyahduan.

Wahai Tuhan, kasihilah kami dengan Quran, dan jadikanlah ia bagi kami pemberi petunjuk dan cahaya keselamatan…