antara iman dan cinta

24 Oktober, 2010

Sebait syair yang dinyanyikan oleh Marcel terekam olehku pada perjalanan pulang dari Bandung dalam sebuah kendaraan umum: “… /aku untuk kamu/kamu untuk aku/namun semua apa mungkin/iman kita yang berbeda/tuhan memang satu/kita yang tak sama/haruskah aku lantas pergi/meski cinta takkan bisa pergi/…”

Lirik lagu itu memang menyayat hati, tentang kegelisahan dua insan yang memadu kasih namun terhalang oleh perbedaan iman di antara mereka. Berdalih dengan Tuhan yang satu, mereka mempertanyakan apakah harus berpisah meski saling mencintai. 

Jika kita merujuk kepada para sufi yang hidup dalam agama cinta tentulah “mengizinkan” percintaan itu terjadi. Dan dengan dalih cinta serta pengagungan terhadap hak asasi manusia telah meleburkan semua perbedaan iman di antara mereka, mencampakkan ketentuan agama dan bahkan (secara kasarnya) berani mempertanyakan kebijakan Tuhan. 

Secara kaidah, iman dan islam jika disebut bersama-sama memiliki makna yang berbeda sedangkan jika disebut sendiri sendiri memiliki makna yang sama. Dengan demikian jika seseorang mengaku beriman, secara otomatis dia harus menjalankan keimanan itu di atas dasar-dasar Islam. Dan Islam tidak mengakui adanya perbedaan iman, karena orang yang tidak beriman secara Islam dia disebut kafir (mengingkari), musyrik (menyekutukan) atau munafik (berpura-pura).

Karena kaidah iman dalam Islam menyatakan demikian, maka orang-orang yang beriman dituntut untuk saling mencintai karena Allah saja. Dan orang-orang yang mengaku mencintai Allah akan dengan sadar mengikuti apa yang dibawakan oleh Rasulullah yang mulia dan mencampakkan semua prasangka maupun inovasi yang bertentangan dengan semangat iman.

Lalu bagaimanakah solusi bagi kedua insan yang berada pada kondisi syair di atas? Maka apabila salah satunya adalah orang yang beriman, hendaklah ia merujuk kepada Alquran dan Assunnah yang telah membimbing kita untuk beragama dengan lebih baik dan lebih selamat dunia dan akhirat, daripada sekadar memenuhi rasa cinta (baca: nafsu) yang ada pada diri mereka.


to love is to follow

27 Februari, 2010

Allah has created everything that exists in nature with a sense of love, including the man who has made as caliph, bearers of trust on earth. So the love of Allah to man, He did not allow us to live without purpose and without guidance. Human beings were not created by Allah but to serve Him [1] by purifying worship without associate with Him in worship of any kind[2].

However, can not be denied that some people worship their own way and think that Allah will accept their worship[3]. They argue that the love is the religion itself, even Allah is the love, so they replenish themselves with love it is it. Though there is no reason for anyone who claims to love, except to follow what is desired by the beloved.

Consequence of the love of Allah requires us to follow the Prophet as the Messenger in all goodness, faith, tawadhu’, and humble ourselves, thus all the sins we have done will be forgiven[4]. And whoever loves the Prophet, is mandatory for him to accept all guidances given by the Prophet, indeed it is really the best guidance. Among the evidence to follow the Prophet is believed that what was conveyed by him solely from Allah and the Prophet is not lying, reducing or adding to the words of Allah.

Then, with adherence to his commands, away from what he forbids, worship by following the Sunnah and avoid heresy as the worst case and an error that can lead us to Hell. In addition, a sign of devotion to the Prophet should be realized by sending Salawat as a tribute to him when his name is called, whether in prayer or on other occasions[5].

That’s what true love should be addressed to Allah and the Prophet.

[1] QS 51:56. “And I (Allah) created not the jinns and humans except they should worship Me (Alone).”

[2] QS 98:5. “And they were commanded not, but that they should worship Allah, and worship none but Him Alone (abstaining from ascribing partners to Him), and perform As-Salat (Iqamat-as-Salat) and give Zakat: and that is the right religion.”

[3] QS 2:165. “And of mankind are some who take (for worship) others besides Allah as rivals (to Allah). They love them as they love Allah. But those who believe, love Allah more (than anything else). If only, those who do wrong could see, when they will see the torment, that all power belongs to Allah and that Allah is Severe in punishment.”

[4] QS 3:31. Say (O Muhammad SAW to mankind): “If you (really) love Allah then follow me (i.e. accept Islamic Monotheism, follow the Qur’an and the Sunnah), Allah will love you and forgive you of your sins. And Allah is Oft-Forgiving, Most Merciful.”

[5] QS 33:56. “Allah sends His Salawat (Graces, Honours, Blessings, Mercy, etc.) on the Prophet (Muhammad SAW) and also His angels too (ask Allah to bless and forgive him). O you who believe! Send your Salawat on (ask Allah to bless) him (Muhammad SAW), and (you should) greet (salute) him with the Islamic way of greeting (salutation i.e. As-Salamu ‘Alaikum).”


berartinya kawan

29 Februari, 2008

Apalah artinya kawan… mungkin tak banyak di antara kita yang merasakan betapa berartinya kawan. Banyak macam kawan yang dapat kita jalin dalam kehidupan kita, namun berapa banyak kawan berkualitas yang dapat langgeng sampai akhir hayat? Ah terlalu jauh… tetapi ada pelajaran yang dapat kupetik tentang makna kawan dalam perjalananku kali ini.

“hei, gw di surabaya nih, dinner yuk! Ajak keluargamu sekalian ya!” begitu pesan smsku. Berhubung ada beberapa kawan, kuset tiap malam dinner dengan kawan yang berbeda, supaya bisa ngobrol lebih intens sekaligus melepas kangen dengan cara yang berbeda pula.

Tak dinyana, mereka respon luar biasa. Dinner pertama dengan budi-mega, mereka datang di saat gerimis dengan sepeda motor. Surabaya di waktu sore beberapa hari ini selalu disiram hujan. Mereka mengajakku makan “penyet-penyetan” bu Kris yang terkenal dengan sambalnya yang aduhai pedasnya. Mengantarku beli rujak cingur pesanan teman kantor di plasa surabaya. Ngobrol beberapa hal dan kembali ke hotel. Kuajak ngobrol lanjutan di kafe hotel, tetapi sayangnya mereka punya keperluan lain.

Dinner kedua dengan yudis-citra, di saat gerimis juga, tapi kami janjian di tunjungan plaza, pesan hotplate, sambil ngobrol banyak hal, seperti dulu di kantin teknik yang bisa habis semalaman buat ngobrol. Sadar meja-meja foodcourt mulai dibereskan, kami pun menyingkir dan melanjutkan obrolan sampai ke dalam taxi. Sayang juga esok hari kerja, sehingga menghalangi kami mengobrol lebih jauh.

Tak ada yang kurang dari pertemuan dengan mereka, apalagi dinner gratis  maunya sih aku yang mbayari tapi mereka bersikeras. Hal yang serupa kudapatkan ketika aku ke balikpapan dan dinner bareng hosna-rani makan di pinggir pantai. Berangkat gelap-gelapan karena rumah kontrakan mereka mati lampu. Sampai malam menikmati roti cannai dan desiran angin pantai. Atau di saat liburan kuliah dulu main ke bandung mengganggu doni yang masih berkutat dengan ujian semester, tetapi sempat ngajak main dan makan keluar sarangnya di asrama masjid salman. Atau dengan mas agung yang rela jemput tengah malam karena baru pulang dari gresik untuk mengajakku makan rawon setan dan keliling surabaya dengan sedannya. Atau dengan asim yang menjamu dan mengenalkanku kehidupan londoners ketika mampir di london, begitupun dengan jacky yang membantuku mengenali calgary.

Kesemua kawanku itu menjamuku begitu istimewa dengan cara mereka masing-masing. Bukan jamuan bisnis yang penuh pamrih, tetapi jamuan persaudaraan yang penuh cinta. Tak satupun yang mau menerima balasanku secara spontan saat itu. Tak hanya dinner gratis yang kudapat, diskusi, wacana, hikmah dan charging atas jiwa juga kudapat dari mereka. Kurasakan betapa berartinya mereka dalam sekilas kehidupanku.

Sejenak menerawang kepada perlakuanku kepada janji-janji pertemuan dengan kawan-kawan di jakarta. Semua hal bisa jadi apologiku untuk tidak datang: hujan gerimis, kemacetan, urusan kantor, dsb. Aku jadi malu dengan diriku sendiri. Perlakuan kawan-kawan terhadapku telah menampar pipiku keras sekali hingga membelalakkan mata bahwa kawan sejati bukan hanya ada di saat kita senang, justru di saat kita membutuhkan, dan mereka tidak berharap pamrih atas apa yang mereka berikan.

Terima kasih kawan-kawanku, i love you all! Juga kepada kawan hidupku yang mendampingi dan mencintaiku sepenuh cinta yang diajarkan Tuhan kepadanya, may Allah always love you more than your love to me 

[nd, 28022008]


Malaikat di Antara Kita * — ungkapan cinta di mana-mana

31 Maret, 2005

Saya pernah menyampaikan kekaguman saya tentang malaikat di artikel bulan Juni 2004 Dan saya tidak habis-habisnya mengagumi malaikat sebagai makhluk Allah.Kemarin sebuah sms masuk ke hp saya, ternyata dari kekasih hati yang kini mendampingi saya mengarungi kehidupan rumah tangga:
Kalau aku dibekali sepasang sayap, aku bisa setiap saat pergi menemuimu tanpa harus menunggu hari berubah gelap hingga kau pulang..
Ah! Tapi sayap menyulitkan kita bercinta..
hehehe…
kabarnya malaikat punya sayap ya?

الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَّثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاء إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Praise be to Allah, Who created (out of nothing) the heavens and the earth, Who made the angels, messengers with wings,- two, or three, or four (pairs): He adds to Creation as He pleases: for Allah has power over all things
[QS35:1]

Kemarin juga, saya pergi ke rumah ustad untuk mendapat pencerahan, saya suka menjalin silaturahim, saya tidak ingin hanya bertemu ustad saya ketika pengajian saja, oleh karenanya saya sengaja bertandang ke rumahnya untuk bicara tentang kondisi saya dan apa yang saya alami berkaitan dengan penurunan kualitas iman saya. Ustad saya orang yang sederhana dan ngga neko-neko, tetapi ia memiliki semangat juang yang tinggi dalam berdakwah. Beliau dikaruniai 7 orang putra-putri yang masih remaja dan kanak-kanak. Sebagai ketua cabang, kesibukannya luar biasa, ia memiliki waktu luang yang tidak dimiliki orang lain, sedangkan saat orang lain punya waktu luang, justru dia sedang sibuk-sibuknya. Jadi beruntung sekali saya dapat menemuinya kemarin.

Anaknya yang paling kecil senang sekali “mengganggu” pembicaraan kami, saya pikir dia mencari perhatian bapaknya, lucu sekali, saya senang juga bermain dengan dia, namanya Adil, semoga kelak menjadi pemimpin yang adil. Saya seperti melihat keluguan malaikat dalam setiap gerak-gerik kenakalan bocah yang ia tampilkan. Adil memberi saya inspirasi bagaimana belajar mengenal. Sepotong brownies yang sudah dicicipinya ditinggalkan saja di atas piring saji, dan ia asyik bermain dengan kekhawatiran bapaknya, karena si Adil turun-naik kursi dan meja tk. hehehe…

Ustad menanggapi segala yang saya sampaikan dengan cukup bijak, dan saya merasa cukup plong, dan bersyukur kepada Allah.

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ
Have We not expanded thee thy breast? And removed from thee thy burden
[QS 94:1-2]

Setelah pamit dari rumah ustad, saya mampir ke tempat cuci motor. Sambil menunggu motor saya bersih saya berbincang dengan pemilik usaha cuci kendaraan. Ia sengaja mengambil pensiun dini dari kantornya karena ia ingin lebih dekat dengan keluarganya. Selama ia bekerja sebagai insinyur lapangan di sebuah perusahaan minyak, waktu bersama keluarga hanya sebentar. Selain usaha cuci kendaraan, dia juga usaha properti, membeli rumah-diperbaiki-kemudian dijual kembali.

Seorang pelanggan lain datang, ia seorang guru, pemilik usaha cuci tersebut sepertinya mengenalnya cukup baik. Kami berbincang bertiga tentang usaha angkot, dan tipikal “maling” dari sopir angkot. Kabarnya para sopir nakal itu suka mengerjai kendaraan dan setoran si pengusaha angkot. Pak guru ini mengakui bahwa ia juga “maling” karena ia suka korupsi waktu. —jadi mikir, saya nulis begini di waktu kerja, bisa dibilang maling juga dong, ya?— Pak guru ini juga bicara tentang betapa manusia mudah sekali digoyang imannya dengan harta, kedudukan dan perempuan.
Bahwa hidup sebaiknya hanya untuk menjalankan perintah Allah dan mengisinya dengan segala syukur dan bersabar atas segala cobaan.

Sayang sekali, pembicaraan kami terpotong karena motor saya sudah selesai dicuci, dan istri tercinta sudah menunggu di rumah, dia memasakkan untuk kami mie baso yang sangat lezat.

* judul buku karya Ahmad Barizi


sebuah cinta

26 Agustus, 2004

sebuah cinta
hadir di hadapmu

membakar asamu
memacu kegigihanmu
mendamaikan laramu

hingga kau punya alasan
untuk berjalan
untuk bertahan
untuk berbagi

sebuah cinta
hadir di rasamu

bagai bunga
bagai lukisan
bagai bintang
yang selalu kaunantikan

sebuah cinta
hadir di degupmu

mengaduk emosimu
memaksa pikiranmu
memompa keinginanmu

ada ragu
ada cemas
ada harap

sebuah cinta
hadir di jiwamu

dan kau mengerti
mungkin inilah hadiah
yang Allah persembahkan
untuk kesabaranmu
mengharap keberkahanNya

maka dengan sepenuh keikhlasan,
raihlah ia!

buat masku sayang,
dan spesial untuk dua sahabatku:
winda dan emiel

barakallahulaka wabaraka’alaika
wajama’a bainakuma fii khair!


Kalau Kau Cinta

28 Juli, 2004

Kalau kau cinta
Sesungguhnya
Tidak sejumput pun rindu
yang mampu kaugenggam sendiri…

Tak sedetikpun sepi
yang bisa kau jelang sendiri…

Kalau kau cinta
Sesungguhnya
Hatimu sedang berjuang
tuk menjadi lebih penyayang

Akalmu berusaha
tuk menjadi lebih tegas

Kalau kau cinta
Sesungguhnya
Tak mungkin ia datang sendiri
Karena cinta adalah milik
Sang Maha Mencintai

Karena itu mintalah cinta
Yang hadir hanya karenaNya…
Dengan ridhaNya…

Hingga terberkahilah segala cinta itu…

Depok, 21072004
Untuk adekku Pur, dan seseorang yang telah
mengatakan padaku:”Maukah kau menikahiku karena Allah?”


simfoni kerinduan

28 Juli, 2004

melangkah tunduk akui lara..
susuri perjalanan usia dosa dan pahala
mendaki hikmah derajat mulia
menghampar rasa bahagia
bersimpuh di hadapan-Nya
turuni bukit cahaya kembali ke mayapada

borobudur (nd)

sumbat jiwa telah lepas..
dan gaduh yang sesakkan
hati pemimpi pun telah melebur
duhai Penguasa Nyata,
izinkan hati menuai keberaniannya
menjelang cinta..

–(chee)–

semilir bayu mengempas pasir
deburan ombak mengantar kabar
mentari ucapkan selamat malam
dapatkah layang terbang ke awan?
setepis rindu dilanggamkan..

–parangtritis (nd)

rasa damai menjauh kala kau merindu..
Ada belahan lara yang mencabik
kesadaranmu dan berjuang
lencengkan niatmu..
berapa lama kau sanggup bertahan?

–(chee)–
tebing terjal menanti jiwa
jatuh ke jurang putus asa
genderang perang ditabuh nunggu
jiwa berhati singa..
cinta hanya halte
reguk kekuatan..
rindu cuma seteguk
pelepas dahaga..
hingga Tuhan sampaikan
 

–(nd)–

siapa yang bisa bicara luka
kalau hatinya penuh cinta..
sekali waktu hidup mestilah
merenda keraguan..
tapi Allah teramat sabar
terhadap pengingkaran..
Lalu mestikah sebuah kekecewaan
membuat langkahmu henti..
membuat rasamu hambar..?

–(chee)–
bila simfoni telah dimainkan
orkestra pelipur lara..
bawa daku larut dalam
adukan kecewa dan kehangatan
padukan daku dalam genggaman
kerinduan..
kutulis nada tanpa suara
jerit batin tak henti harap
sampaikan rasaku dengan melodi

Tuhan jangan kau lepas tangan-Mu
yang dengannya daku mampu
gapai putik cinta di hatinya..

–graha sabha ugm (nd)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 71 pengikut lainnya.