morning trip

28 April, 2008

As a worker in jakarta, wake up in the morning is a must. You have to get out of your house early before the birds sing and the sun rise. This morning, I woke up late, yesterday was a very tired day. After bath and dress, eat some “ketan”, hug my son and kiss my wife, I walk to catch “ojek” to “angkot”. But I find no “ojek” this morning, I thought they’re full occupied. An Innova came and stop by me, a head show on the window and offer me a ride.

[there's more to read]


sms cinta dari pak gubernur

14 April, 2008

sms dari nomor 0818-0859-8888 itu selalu mampir di hp-ku pada setiap keluhan yang kulayangkan buat pak gubernur dki jakarta. sebagai warga pengguna setia jalur busway, aku sempatkan mengirim keluhan, pujian, ataupun saran dalam penanganan jalur busway. sejak itu pula selalu ada sms balik dari pak gubernur. anggaplah pak gubernur yang membalas, walau pada hakikatnya ia punya team untuk menjawab sms e-dki secara normatif maupun aktif :)

jawaban tersingkat adalah: “SMS-DKI: Terima kasih atas partisipasi anda.”

jawaban lainnya: “SMS-DKI: Warga yang terhormat terima kasih atas dukungannya kepada Pemprov DKI. Dan kami juga akan terus memberikan pelayanan yang lebih baik lagi.”

jawaban terpanjang, adalah tergantung masalahnya, seperti masalah sterilisasi jalur busway selain koridor tahap pembangunan.

entah mengapa, sejak aku mengirim sms keluhan dan saran ke nomor itu, aku semakin nyaman menjadi pengguna busway, karena suara kecil ini didengarkan dan ditindaklanjuti oleh pak gubernur. hanya satu yang belum kurasakan dari keluhan betapa sedikitnya armada busway sementara peminatnya semakin banyak….


patuh saja jika diawasi

8 April, 2008

boleh dibilang salah satu kejelekan orang kita adalah patuh ketika diawasi, inilah kejadiannya ketika akhirnya pemda dki memberlakukan sterilisasi jalur busway selama bulan februari-maret 2008 kemarin. sebagai pengguna moda transportasi massa cepat tentu saja bersyukur jika jalur busway bebas dari kendaraan lain yang mengganggu kelancaran perjalanan. dua bulan berlalu merupakan masa yang menyenangkan karena waktu tempuh 20 menit benar-benar tercapai (menafikan waktu tunggu di halte, lho!)

tapi memasuki bulan april ini,  dengan adanya beberapa ruas jalur busway tidak lagi dijaga petugas kendaraan pribadi maupun umum lainnya berebutan masuk jalur busway sehingga memperlambat laju bus transjakarta yang kucintai.

padahal malaikat jibril as. mengajarkan kita untuk ihsan dalam segala hal, maka sudah seharusnya mematuhi peraturan adalah salah satu bentuk ihsan.

ihsan: beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Dia, namun karena ketidakmampuan kita melihat-Nya, kita harus yakin bahwa Allah mengawasi kita.


semua jadi macet :p

15 Februari, 2008

ternyata tidak ada perubahan yang signifikan selama 3 bulan di jalur busway (baca posting 3 bulan lalu di sini). semua koridor kecuali koridor I, bebas dari lancar alias macet selalu.

menjadi polantas atau dishub yang ditugaskan di jalanan tentu sangat pusing dengan kelakuan pengguna jalan yang menyerobot jalur busway. terpaksalah mereka mengatur supaya jalanan tetap lancar dengan mengorbankan penumpang bus transjakarta. bayangkan saja mereka harus berkutat dengan becek dan hujan kadang-kadang panas terik, sementara para pemakai kendaraan pribadi asyik menggerutu dalam belaian AC tanpa perlu kepanasan atau kehujanan.

yang perlu jadi perhatian adalah kemana moral para pengendara mobil pribadi yang menyerobot jalur busway? pengennya sih gak mau macet dengan masuk jalur busway. tetapi ulah mereka malah membuat macet jalur busway. mengapa jalur busway bisa lebih macet daripada jalur biasa? karena jalur busway hanya menyediakan satu lajur, sedangkan jalur biasa lebih dari dua lajur. selain itu jalur busway dibatasi oleh separator sehingga menyulitkan pengguna melakukan manuver salip menyalip yang sangat mudah dilakukan di jalur biasa.

apakah para penyerobot jalur busway itu tidak menyadari bahwa mereka telah bersalah berlipat-lipat? pertama, menyerobot jalur busway adalah pelanggaran karena ada tanda verboden dengan tulisan “kecuali busway”. kedua, menyerobot membuat macet jalur busway sehingga bus transjakarta tidak bisa mengantar penumpangnya secara cepat sesuai harapan mereka. ketiga, menyerobot adalah mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan umum dan ini merupakan kesalahan. keempat, para penumpang busway menggerutu dan menyumpahserapahi ulah para penyerobot, membuat orang kesal adalah sebuah kesalahan. kelima, para penyerobot berpikir akan lancar tetapi malah membuat macet, ini jelas kesalahan strategi :p.

siapa lagi yang mau menambahi daftar kesalahan?


ketika tanda verboden kehilangan makna

9 Januari, 2008

tanda verboden adalah salah satu rambu lalu lintas yang berbentuk lingkaran yang dicat warna merah dengan strip putih horizontal di tengahnya yang bermakna: dilarang masuk.

penempatan tanda ini pada jalur lalu lintas dapat dimaksudkan untuk memilah kendaraan mana saja yang boleh atau tidak boleh melalui jalur tersebut. tanda ini juga dapat ditempatkan pada pintu-pintu ruang atau akses masuk suatu tempat supaya tidak dapat dimasuki atau dilalui orang maupun kendaraan.

pada setiap persimpangan jalur busway dengan jalur umum akan mudah ditemui tanda ini terpasang di mulut jalur ditambah dua kata: KECUALI BUSWAY. itu berarti yang boleh melaju di atas jalur busway hanyalah bus transjakarta busway. namun ketika ada spanduk putih milik polisi terpasang bertuliskan: “sepeda motor dilarang masuk jalur busway” ambruklah semua tiang tanda verboden itu karena apabila hanya sepeda motor yang tidak boleh memasuki jalur busway, membuka peluang bagi kendaraan umum lainnya dan mobil pribadi untuk menyumbang kemacetan di jalur busway padahal niatnya pak gubernur terdahulu mengurangi kemacetan dengan membangun busway.


“susah diterka”

9 Januari, 2008

“susah diterka”: tulisan yang ditempel di kaca jendela belakang kopaja 602 jurusan ragunan-tanah abang itu terbaca olehku yang sedang menunggu bus transjakarta di halte busway departemen pertanian. pagi yang mengacaukan bagiku, karena bangun kesiangan, karena macet di jalan kahfi dan cilandak kko, ditambah menunggu di halte yang sesak oleh calon penumpang yang sama-sama kesiangan.

kopaja 602 itu adalah kopaja kedua yang melintas sejak aku mulai berdiri di halte pagi ini. alhamdulillah, bus yang kunantikan datang, dan kosong (atau sengaja dikosongkan untuk menjemput penumpang). segera saja calon penumpang berebutan masuk dan dorong mendorong untuk mendapat bangku, tak pedulikan lagi tanda himbauan yang ditempel: utamakan wanita hamil, orangtua, orang cacat.

pilihanku naik busway koridor enam ini adalah waktu tempuh yang cepat dibandingkan jika aku menumpang kopaja 602 atau kopaja p20 untuk mencapai kantorku di bilangan kuningan-gatsu. tetapi kondisi di jalanan memang susah diterka: seperti tulisan yang ditempel di jendela belakang kopaja 602 yang kubaca tadi. jika polisi benar-benar menjalankan tugasnya, tak satupun kendaraan umum maupun pribadi yang boleh melalui jalur busway, dan hanya 20 menit saja aku berada di dalam bus transjakarta yang sesak itu. namun ketika polisi sudah kewalahan menghadapi kemacetan, sebagaimana pak gubernur dki yang baru pusing dengan kemacetan di jakarta: mereka hanya berpayah-payah mengatur kendaraan yang berbalik arah tanpa sempat mengalihkan arus yang hendak masuk ke jalur busway. kalau sudah begini butuh 3 hingga 5 kali 20 menit supaya aku dapat turun di halte busway kuningan timur.

dalam gerutu yang meradang, melihat mobil-mobil berpenumpang kurang dari 2 orang menyerobot sehingga membuat jalur busway ikut merasakan kemacetan (padahal bukan itu tujuan diadakannya busway), terbaca lagi olehku tulisan “susah diterka”. Aduhai! beberapa saat lalu, kopaja itu tertinggal jauh di belakang karena menanti penumpang dan sekarang berada di samping bus yang kutumpangi?


semua gak mau macet!

13 Nopember, 2007

011.gif 

sebagai pelanggan busway, tentu saja sangat senang kehadiran busway menghindarkan diri dari kemacetan karena busway menggunakan jalur sendiri (yang asalnya mengambil jalur cepat milik kendaraan roda empat lainnya). namun ternyata kehadiran ini tidak disambut gembira bagi pengendara roda empat lainnya, karena jalur mereka menjadi lebih sempit. dan berbagai kesalahan ditimpakan ke muka busway, jangan atasi masalah dengan masalah dong! begitu kata orang-orang bermobil.

gubernur dki yang baru dalam program 100 hari pertamanya untuk mengatasi kemacetan adalah diantaranya dengan membolehkan penggunaan jalur busway yang belum beroperasi untuk dilalui kendaraan. tetapi kebijakan ini gebyah uyah… semua jalur busway yang sudah beroperasi pun (kecuali Koridor I) jadi korban penyalahgunaan kebijakan pak gubernur.

waktu tempuh 20 menit ke kantor pun terpaksa jadi 1 jam lebih gara-gara jalur busway dimakan sama kendaraan lain. sementara polisi mempersilakan mereka masuk ke jalur busway, dishub dki bersusah payah mengalihkan mobil yang masuk untuk keluar dari jalur busway.

ada ketidakadilan polisi, dimana mereka sangat menjaga peraturan lalin di jalur Koridor I(Blok M-Sudirman-Thamrin-Kota), karena jalur itu merupakan jalur percontohan, menilang pengendara motor yang masuk ke jalur mobil, mengusir mobil yang masuk ke jalur busway. tetapi penindakan terhadap pelanggar lalin di jalur koridor lainnya sama sekali “anget-anget tahi ayam”.

semua gak mau macet, tetapi kalau busway yang diperuntukkan sebagai solusi, tolong jangan dipermasalahkan dong!