rambut panjang aya

24 Mei, 2012

Aya, putri bajak lautku yang cantik rupawan, sama sekali tidak nampak femininnya, menyukai rambut panjang a la barbie dengan kostum jake & the neverland’s pirates. Saking inginnya berambut panjang, shampoo deedee untuk rambut panjang pun dikeramaskan pada rambut ikalnya, tidak cukup sehari sekali, setiap kali mandi plus setiap malam. Tak mempan dinasehati, bahwa rambut panjang tidak serta merta dan seketika, harus dengan asupan gizi yang baik, istirahat yang cukup, dan emosi yang terkendali. Aduh…

Bukannya menyimak, malah bersuara, tak suka babanya menceramahi dia, bersikeras untuk ke kamar mandi dan berkeramas. Untunglah ia belum bisa membuka sendiri pintu kamar mandi. Lalu digiringlah ke kamar tidur, menikmati bercengkerama dengan bantal dan guling. Yang lain sudah pulas, ia masih bercerita, hingga lelah dan terlelap dengan sendirinya…


ketuk pintu dan beri salam

23 Mei, 2011

sudah dibiasakan bagi anak-anak untuk mengetuk pintu dan memberi salam setiap kali masuk rumah atau minta ijin masuk ke kamar orang tua. Ketika Radya, 5 tahun, menggedor-gedor pintu kamar, kami sengaja tidak segera membukakan pintunya hingga terdengarlah rajukannya disertai sedikit raungan.  Kemudian kami buka pintunya dan melihat cucuran air mata di pipi bocah kecil itu. Sambil jongkok Baba menasihati agar setiap kali minta ijin masuk kamar yang tertutup atau terkunci dengan cara mengetuk dan memberi salam dengan sopan. Tak lupa peluk cium Baba buat Radya agar ia menyadari bahwa ayahnya sangat menyayanginya untuk berlaku baik.

Suatu ketika Radya membuat kesal Bubu karena mengunci kamarnya, sedangkan Bubu ada keperluan di kamar itu sehingga Bubu harus menggedor pintu kamarnya. Lalu dari dalam terdengar suara yang diiringi isakan tangis: “Bubu, assalamualaikum-nya mana?”


menggunting pola

22 Mei, 2011

Tsuraya, 2.5 tahun,  suka menggunting. Dengan gunting kesayangannya ia menggunting kertas-kertas menjadi serpihan-serpihan kecil. Baba pikir sudah waktunya bagi Tsuraya diperkenalkan dengan menggunting pola. Baba menggambar lingkaran dan segitiga, lalu meminta Tsuraya mengguntingnya.

Inilah hasilnya, sebuah lingkaran dan sebuah segitiga yang tergunting :)


Bukaan keran yang besar, Ba!

28 Desember, 2010

Begitulah yang diminta anak saya yang berusia 4,5 tahun saat saya ajari dia untuk berwudhu di tempat wudhu masjid. “Jangan terlalu besar, sayang. Itu namanya boros,” saya menjawab permintaannya. “Tapi orang dewasa itu membuka keran besar-besar, Ba?” tanya anak saya menunjuk seseorang yang sedang berwudhu juga. Walau pakaian orang itu menampakkan kesalihan dan mencirikan seorang penuntut ilmu, mungkin belum sampai kepadanya hadits sahih bahwa Nabi yang mulia telah mengajarkan kita berwudhu secara sederhana yaitu dengan segayung air saja.

Dari Utsman ibn Affan radhiyallahu anhu bahwa dia telah meminta segayung air, maka dituangkan air itu ke tangannya dan membasuhnya tiga kali, kemudian dimasukkan tangan kanannya ke dalam wadah air dan membersihkan mulutnya, lalu membasuh dan membersihkan hidungnya. Kemudian dia membasuh wajahnya tiga kali dan bagian bawah tangannya hingga kedua sikunya tiga kali, mengusap rambut kepalanya dan membasuh telapak kakinya hingga ke kedua mata kakinya tiga kali. Kemudian ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘jika seseorang berwudhu dengan caraku dan mendirikan shalat dua rakaat dengan tidak berbicara dalam sholatnya maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lampau.’” (HR Al-Bukhari)


Resensi: 38 Kesalahan Mendidik Anak

21 April, 2010

Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]

Memperingati hari lahir RA Kartini yang jatuh setiap tanggal 21 April, begitu banyak acara digelar untuk menggugah semangat perempuan. Bahkan anak-anak sekolah pun digugah kesadarannya untuk menjiwai semangat pahlawan perempuan Indonesia itu dengan mengenakan pakaian nasional, karnaval ataupun berkumpul dalam upacara peringatan. Semua itu dilaksanakan entah dengan kesadaran atau tidak bahwa sistem pendidikan saat ini belum mampu membentuk generasi penerus yang jauh lebih baik daripada generasi sebelumnya. Yang ada malah membangun semangat konsumerisme, permisivisme, dan kemerosotan akidah dan akhlak. Jauh sekali dari cita-cita Kartini sebagaimana dipetik di atas.

Baca entri selengkapnya »


memilih istri shalihah

4 April, 2010

Setiap orang yang ingin mengarungi kehidupan berumah tangga hendaknya memiliki perhatian dalam memilih pasangan hidupnya, setelah memohon kepada Allah agar diberikan pilihan yang terbaik dan meminta arahan kepada orang-orang yang telah berpengalaman dan berilmu. Seorang perempuan hendaklah memilih laki-laki shalih yang kelak menjadi ayah bagi anak-anaknya. Dan seorang laki-laki hendaknya memilih perempuan shalihah untuk menjadi ibu bagi anak-anaknya.

Walau peran kedua orang tua sama besar tanggung jawabnya dalam pendidikan anak-anak, bagaimanapun mereka akan tumbuh dan berkembang sebagaimana budi pekerti dan pembawaan ibunya. Dan sang ibu sebagai istri pun memiliki pengaruh yang besar pada diri suaminya. Kecenderungan kepada istri seringkali membawa suami untuk menuruti keinginan istrinya, dan rasa cinta kepadanya menyebabkan suami menyepakati pendapatnya, sehingga suami tidak mendapatkan celah untuk menyelisihi sang istri, tidak pula menentangnya atau mencari jalan yang berbeda. Maka sampai ada yang mengatakan bahwa seseorang (suami) tergantung kepada agama istrinya.

Orang-orang bijak masa lalu pernah berkata kepada anak-anaknya:

“Wahai anakku, janganlah keelokan paras wanita mengalihkanmu dari  kejelasan nasab (keturunan), sesungguhnya wanita pilihan nan mulia adalah pembawa derajat kemuliaan.”

“Sesungguhnya aku telah berbuat baik kepadamu di waktu kecilmu, tatkala kamu tumbuh besar, dan sebelum kamu dilahirkan yaitu dengan memilih sosok ibu yang dengan itu kalian tidak mencelaku.”

“Awal perbuatan baikku yang kuberikan kepada kalian adalah memilih sumber yang luhur (yaitu ibu) yang nampak kesuciannya.”

rujukan:

Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, 38 Kesalahan Mendidik Anak, Pustaka Ar Rayyan:  Cet. III, 2009


pamitan ke anak

12 Oktober, 2008

barangkali tidak sedikit ortu yang tidak pamitan kepada anak-anaknya ketika pergi meninggalkan mereka, padahal para ortu itu sering memaksa anak untuk pamitan setiap kali mereka pergi keluar rumah. Begitu banyak alasan dibuat oleh ortu untuk tidak pamitan, terutama apabila anak tersebut masih balita.

“Kalau pamitan, nanti anakku minta ikutan. Kalau ikut biasanya bikin ulah.”

“Kalau pamitan, anakku bikin segala cara untuk membujukku terus bersamanya sehingga aku gak bisa pergi.”

Begitu di antara alasan ortu, padahal anak mencontoh orangtuanya. Bagaimana mereka akan pamitan kepada ortu jika mereka tidak pernah melihat ortunya pamitan kepada mereka? Bagaimanapun anak balita adalah manusia yang sedang belajar. Mereka mampu memahami ortu lebih daripada ortu memahami mereka. Kerewelan yang mereka buat hanyalah cara supaya ortu lebih memerhatikan mereka, seakan-akan mereka mau bilang ke ortunya: “Kalian sudah menjadi orangtuaku, kalian harus bertanggung jawab mendidikku mengerti tata krama dalam menjalani kehidupan dunia.”

thanks to raka for being our inspiration


keluarga berencana

7 Juni, 2008

“sudah menikah?”
“sudah”
“sudah ada anak?”
“alhamdulillah, mau dua”
“yang besar usia berapa?”
“baru dua tahun”
“calon adiknya?”
“insya Allah empat bulan lagi dilahirkan”
“wah cepat sekali punya adik”
“alhamdulillah dikasih sama Allah”
“yang pertama, baru nikah langsung isi?”
“eh, dikasih waktu pacaran dulu, hehe”
“oh, ternyata, emang usia adik berapa?”
“masih 28 om”
“masih muda, kok buru-buru nikah, anak udah mau dua pula?”
“_”


dialog berikutnya


BAGAIMANA ANAK ANDA DIBENTUK ?

28 Maret, 2005

Jika seorang anak hidup dalam suasana penuh kritik,

Ia belajar untuk menyalahkan

Jika seorang anak hidup dalam permusuhan,

Ia belajar untuk berkelahi

Jika seorang anak hidup dalam ketakutan,

Ia belajar untuk gelisah

Jika seorang anak hidup dalam belas kasihan diri,

Ia belajar mudah untuk memaafkan dirinya sendiri

Jika seorang anak hidup dalam ejekan,

Ia belajar merasa malu

Jika seorang anak hidup dalam kecemburuan,

Ia belajar untuk iri hati

Jika seorang anak hidup dalam rasa malu,

Ia belajar untuk merasa bersalah

Jika seorang anak hidup dalam semangat jiwa besar,

Ia belajar untuk percaya diri

Jika seorang anak hidup dalam menghargai orang lain

Ia belajar untuk setia dan sabar

Jika seorang anak hidupnya diterima apa adanya,

Ia belajar untuk mencintai

Jika seorang anak hidup dalam suasana rukun

Ia belajar untuk mencintai dirinya sendiri

Jika seorang anak hidupnya dimengerti,

Ia belajar bahwa sangat baik untuk mempunyai cita-cita

By : Dorothy Law Notie


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 71 pengikut lainnya.