13 November, 2011
Ngalap berkah atau tabaruk sering dilakukan oleh manusia dengan harapan mendapatkan berkah dari sesuatu, supaya dimudahkan segala urusannya. Sebagian dari mereka mencari berkah dari tanah kuburan orang yang dianggap wali, ada juga yang mencari berkah dari guntingan kain kiswah (penutup kabah), ada juga yang mengusap-usap suatu benda yang dianggap keramat, dan lain-lain yang ternyata hanya anggapan belaka. Adapun para nabi, mereka adalah manusia yang mendapat bimbingan langsung dari Allah sang pencipta alam semesta, telah mengajarkan bagaimana mencari berkah dengan benar dan lebih selamat dari sekadar anggapan-anggapan. Di antara tuntunan tabaruk yang dibenarkan adalah membiasakan mengucapkan basmalah atau tasmiyah setiap kali memulai aktivitas.
Basmalah adalah mengucapkan: “Bismillahirrahmanirrahim”, sedangkan tasmiyah adalah mengucapkan: “Bismillah”, masing-masing ucapan telah diajarkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasalam mengenai waktu dan tempatnya, dan tidaklah yang satu lebih utama dari yang lain kecuali karena mengikuti waktu dan tempat yang diajarkan oleh beliau. Di antara manfaat dari membaca basmalah atau tasmiyah adalah memperoleh pertolongan Allah dan pengakuan keterlibatan Allah dalam kesuksesan usaha kita.
http://www.ziddu.com/download/17306775/Makalah01_PV_UshulutTsalatsah_UstAbdullahSyaroni_1.pdf.html
http://www.ziddu.com/download/17413842/PV_UshulutTsalatsah_UstAbdullahSyaroni_02.mp3.html
Tinggalkan sebuah Komentar » |
celengan pundi, jendela surau, kedai jaja, sumur di ladang | Ditandai: basmalah, berkah, tasmiyah, tsalatsah, ushul |
Permalink
Ditulis oleh andi
16 Mei, 2010
Bodyguards and Assassins mengambil latar 4 hari di tahun 1906, di Hongkong yang walaupun merupakan teritori kerajaan Inggris masih dalam kedaulatan Dinasti Qing. 4 hari tersebut adalah hari penyambutan Dr. Sun Yat Sen, tokoh demokrasi China, yang akan kembali dari Jepang untuk memimpin pemberontakan liga rakyat China bersatu. Demokratisasi di China pada saat itu dirasa perlu untuk menyamaratakan hak-hak asasi manusia, menghilangkan keistimewaan kekaisaran yang dianggap berasal dari Titah Langit.
Intrik, spionase, perjuangan pers China Daily, donasi pengusaha lokal pada perjuangan demokrasi, strategi penyelamatan, tayangan kekerasan berupa adu bela diri, serta cinta keluarga dan tanah air, menghias sepanjang film ini. Sayangnya saya belum sempat menyelesaikan hingga akhir film karena harus mendarat di London.
Tinggalkan sebuah Komentar » |
jalan setapak, kedai jaja | Ditandai: Bodyguards and Assasins, China, China Daily, demokrasi, Inggris, Jepang, Sun Yat Sen |
Permalink
Ditulis oleh andi
16 Mei, 2010
Invictus adalah puisi yang ditulis oleh Nelson Mandela selama dalam penjara apartheid. Setelah menjadi presiden, secara pribadi puisi tersebut diberikan kepada Francois Pienaar, seorang kapten rugby Springboks Afrika Selatan, untuk menyemangati timnya dalam upaya memenangi piala dunia rugby tahun 1995. Dengan semboyan One Team, One Country dan seragam Green and Gold, Nelson Mandela menjadikan olahraga rugby sebagai pemersatu Afsel yang telah bertahun-tahun hidup dalam apartheid, meruntuhkan kebencian di antara warga negara baik yang berkulit hitam maupun berkulit putih, serta mengembangkan permaafan dalam membangun negara menjadi lebih baik.
Diangkat dari kisah nyata, Morgan Freeman memerankan Nelson Mandela dengan sangat meyakinkan dan mengelabui. Hal ini sejalan dengan pernyataan Mandela sendiri bahwa hanya Freeman yang mampu memerankan dirinya dalam film. Di antara ucapan Mandela pada film ini yang saya ingat adalah: “Kalian telah memilih saya untuk menjadi presiden memimpin negara ini, maka biarlah kali ini saya memimpin kalian.”
Moral film ini adalah bahwa suksesnya pembangunan bangsa dan negara menjadi lebih baik yaitu dengan memercayakan kepemimpinan kepada presiden terpilih. Presiden sensitif dengan isu perpecahan dan secara pribadi mendekati sumber perpecahan, duduk bersama untuk mengobarkan semangat persatuan. Membina hal-hal yang bagi sebagian orang tidak terlalu penting, namun ternyata sangat berpotensi meledakkan perpecahan: yaitu dunia olahraga.
Tinggalkan sebuah Komentar » |
jalan setapak, kedai jaja | Ditandai: afrika selatan, apartheid, invictus, morgan freeman, nelson mandela, olahraga, perpecahan, persatuan, rugby, springboks |
Permalink
Ditulis oleh andi
16 Mei, 2010
Pada penerbangan jarak jauh disediakan fasilitas hiburan di setiap bangku berupa layar televisi dan headphone untuk menonton film maupun berita, mendengar musik, bermain game, melihat rekaman penerbangan, belajar bahasa maupun membaca ringkasan buku.
Hanya 3 buah film yang sempat saya tonton (sebenarnya 2,5 saja karena film terakhir tidak selesai ditonton) yaitu: Mulan, Invictus, dan Bodyguards & Assassins. Ketiganya diangkat dari kisah nyata.
Mulan berkisah tentang perempuan dari kerajaan Wei yang menjadi tentara karena menggantikan ayahnya yang sakit-sakitan. Selama lebih dari 12 tahun terlibat dalam peperangan melawan pemberontak Rouran, Mulan telah mencapai prestasi yang gemilang sebagai jenderal perang yang luar biasa. Namun fitrah keperempuanannya tidak dipungkiri sangat memengaruhi gaya kepemimpinannya.
Ia harus mengorbankan rasa cinta terpendamnya kepada Wentai yang selama ini berjuang membela dan menyemangatinya dalam peperangan, bahkan merawatnya dengan darah dan air mata ketika krisis obat-obatan. Wentai yang ternyata seorang pangeran Wei ditawan setelah menukarkan dirinya dengan obat-obatan dan suplai logistik untuk memulihkan kondisi tentara Wei.
Demi mendambakan berhentinya perang dan dimulainya perdamaian, Mulan berkongsi dengan putri Rouran yang berniat menjadi ratu Wei, membunuh Danyu (pemimpin) Rouran yang ambisius, menyelamatkan Wentai dan merelakannya menjadi suami sang putri.
Mulan menolak jabatan tertinggi sebagai Commander-in-Chief tentara Wei dan memilih kembali ke kampungnya menjadi penenun kain dan merawat ayahnya yang semakin tua.
Film buatan China ini lebih menampilkan sisi moral daripada mengumbar kisah cinta. Perang mengikat persaudaraan di antara para tentara, mengobarkan semangat perjuangan dan pantang menyerah, tidak takut mati demi membela prinsip yang diyakini, strategi maupun pengkhianatan, serta cinta tanah air dan rela berkorban, termasuk berkorban perasaan. Tidak ada adegan dewasa, sehingga aman ditonton oleh anak-anak tentu tetap dengan bimbingan orangtua.
Tinggalkan sebuah Komentar » |
jalan setapak, kedai jaja | Ditandai: Danyu, film, Mulan, patriotisme, perang, Rouran, tanah air, Wei, Wentai |
Permalink
Ditulis oleh andi
22 April, 2010
…
Banyak perempuan Bumiputera yang terpelajar, bahkan lebih terpelajar dan jauh lebih cakap daripada kami, yang baginya tersedia segala sesuatu. Yang baginya tidak mungkin tidak ada kesempatan untuk mengisi ruhaninya dengan santapan berbagai ilmu, yang baginya sama sekali tak ada hambatan dalam mencerdaskan ruhaninya. Yang baginya apa saja yang dikehendakinya dapat terjadi. Tetapi mereka tidak berbuat apa-apa. Tidak dapat mencapai apapun, untuk meningkatkan derajat sesama perempuan dan bangsanya.
Mereka jatuh lagi ke dalam adat kebiasaan lama atau sama sekali hanyut dalam dunia kehidupan Eropa. Berarti bangsanya kehilangan mereka, padahal mereka sebenarnya mampu memberi rahmat kepadanya. Asalkan mereka mau, mereka seyogyanya memimpin bangsanya ke dunia yang terang benderang, ke tempat itu mereka diantarkan oleh pendidikan.
Bukankah merupakan kewajiban tiap orang, yang lebih berbudi dan lebih pandai, untuk membantu dan memimpin bangsanya yang terbelakang daripadanya itu dengan kepandaian dan pengetahuannya yang lebih tinggi itu? Memang tidak ada undang-undang yang nyata mewajibkannya berbuat demikian, tetapi atas budi baik ia berkewajiban yang demikian itu.
…
(10 Juni 1901, surat Kartini kepada Tuan Prof. Dr. G.K. Anton dan Nyonya di Jena)
Baca entri selengkapnya »
1 Komentar |
bilik keluarga, bilik madah, kedai jaja | Ditandai: berpikiran, budi pekerti, cakap, emansipasi, ibu, istri, kartini, kemajuan, kewajiban, laki-laki, masyarakat, pendidik, pendidikan, pengajaran, peradaban, perempuan, rumah tangga, terpelajar, tugas, watak |
Permalink
Ditulis oleh andi
17 April, 2010
Tak sedikit buku yang berbicara tentang Mekkah, yang ditulis berdasarkan naskah-naskah keagamaan, sejarah, maupun observasi sosial. Di antaranya adalah buku “Mekkah Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim” [1] yang ditulis oleh seorang tokoh muda NU, Zuhairi Misrawi. Buku terbitan Penerbit Buku Kompas yang diberi kata pengantar oleh Prof. DR. Komaruddin Hidayat ini berupaya menampilkan Mekkah dalam sejarahnya di masa sebelum Islam, di masa Islam dan di masa modern dengan segala pesona atribut yang dinisbatkan kepada kota suci itu, serta pergumulan kekuasaan yang menghiasi guratan sejarahnya, serta keteladanan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan Nabi Ibrahim alaihissalam sebagai peletak pondasi kehidupan Mekkah.
Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar » |
jendela surau, kedai jaja | Ditandai: al-azhar, Ibnu Batutah, Ibnu Jabir, ibrahim, Ka'bah, Komaruddin Hidayat, Kompas, madura, maisarah, Mekkah, mesir, muhammad, nasrani, NU, puritanisme, resensi, sa'ud, Snouck Hurgronje, wahabi, ya'qub, yahudi, Zuhairi Misrawi |
Permalink
Ditulis oleh andi
2 April, 2010
Karena tertarik dengan booth Mizan di Pasar Festival yang menawarkan harga diskon hingga 50%, membuat saya terdorong untuk memborong beberapa buku. Di antara buku yang saya beli adalah buku yang mengulas tentang kehidupan Maria Al-Qibthiyah, salah seorang istri Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Buku ini merupakan terjemahan dari buku karya Abdullah Hajjaj yaitu Mariyah Al-Qibthiyyah Ummu Ibrahim.[1]
Dari Mukadimah yang ditulis oleh Abdullah Hajjaj, si penulis didapatkan informasi bahwa hal-hal yang dibahas dalam buku tersebut adalah kisah tentang pribadi Maria Al-Qibthiyah dan putranya Ibrahim, kemudian kisah Shafiyyah binti Huyay dan Raihanah. Ketiga istri Nabi tersebut adalah berasal dari kalangan Ahlul Kitab yang masuk Islam setelah menyaksikan sendiri bagaimana orang-orang muslim memperlakukan mereka dengan baik, sehingga masuk Islamnya mereka itu atas dasar pilihan sendiri. Penulis juga menyertakan pembahasan khusus mengenai kemiripan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dengan Nabi Ibrahim alaihis salam dari sisi millah (agama) dan suluk (akhlak).
Sedangkan pada versi terjemahan ini, mizania melengkapi pembahasan dengan 2 hal yaitu: (1) Informasi mengenai sejarah Kristen Koptik, sebagai tambahan dalam memahami latar belakang Maria Al-Qibthiyah, dan (2) Lampiran yang merupakan tulisan dari Muhammad Rasyid Ridha mengulas tentang teladan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam berinteraksi dengan istri-istrinya.
Baca entri selengkapnya »
2 Komentar |
jendela surau, kedai jaja | Ditandai: abdullah hajjaj, ahlul kitab, buku, hadits, ibrahim, islam, koptik, kristen, maria, mesir, mizania, Nabi, quran, raihanah, rasulullah, rasyid ridha, resensi, shafiyah, sirah |
Permalink
Ditulis oleh andi
2 Februari, 2009
Halo semuanya
I want you to take a look at :
KLM – Fill a Plane – Promote your plane
Tinggalkan sebuah Komentar » |
kedai jaja |
Permalink
Ditulis oleh andi
14 April, 2008
sudah sejak lama kami berminat mengonsumsi susu kambing setelah membaca beberapa artikel online maupun offline tentang kelebihan susu kambing. tetapi sepertinya untuk memulai banyak saja hal yang merintangi. sekian waktu berlalu hingga suatu kejadian adik saya harus masuk rumah sakit dan menjalani perawatan intensif selama 6 bulan tak boleh putus karena divonis terjangkit virus TBC.
penelusuran melalui google menghampirkan kami kepada website yang pernah kami kunjungi. pengalaman pasien yang sembuh dari berbagai penyakit paru-paru karena minum susu kambing, dan kisah bahagia lainnya membuat secercah harapan kami untuk membantu adik saya. apalagi setelah mengetahui biaya yang harus dikeluarkan selama pengobatan terbilang besar. sampai miris hati mendengar keluhan dari keluarga pasien lain di tempat adik saya dirawat: “biaya berobatnya aja bikin mati orang gak punya”.
sebenarnya ada program DOTS yang digulirkan WHO bersama pemerintah, pengobatan gratis buat penderita TBC, dan saya juga menyarankan hal itu diambil oleh adik saya. tetapi karena termakan komersialisasi dokter dan upaya menakut-nakuti dengan alasan obatnya banyaklah dan dosisnya rendahlah… taklah jadi adik saya mengikuti program DOTS itu.
berpikir positif bahwa ortu saya mampu membiayai pengobatan adik saya, saya berupaya “meracuni” pikiran mereka tentang alternatif yang lebih baik: konsumsi susu kambing.
kami sekeluarga harus jadi pilotnya, bagaimana membuktikan khasiat susu kambing jika kami sendiri tidak memberi contoh? sejak raka, si dua tahun kami konsumsi susu kambing di usia 18 bulan sebagai pelengkap ASI dan MPASI tubuhnya lebih tahan terhadap penyakit. artinya jarang sekali keluhan alergi dan demam dia alami lagi. bahkan apabila timbul gejala flu dan langsung dihantam susu kambing, flunya segera hilang dan raka tak perlu mengalami demam. saya sendiri sebagai konsumen susu kambing merasakan manfaat yang baik untuk jasmani. istri saya tidak perlu dibelikan susu ibu hamil karena susu kambing mencukupi kebutuhannya.
kami mencoba menyosialisasikan susu kambing kemasan 200 ml seharga enam ribu rupiah itu ke tetangga, beberapa yang positif merasakan manfaatnya terutama bagi balita mereka yang kini lebih sehat. begitu juga yang menderita alergi paru-paru. walau ada beberapa yang negatif, kami menganggap informasi yang mereka terima masih minim.
adik saya, selain mengonsumsi susu kambing juga menyosialisasikan kepada tetangga dan teman-temannya. begitupun ayah saya, juga ibu mertua saya dan adik ipar saya yang pelanggan tetapnya adalah bosnya di kantor. terpaksa modal ditambah buat memperlebar jaringan sosialisasi
Tinggalkan sebuah Komentar » |
beranda, kedai jaja | Ditandai: DOTS, paru-paru, susu kambing, TBC |
Permalink
Ditulis oleh andi