Pada setiap perjalanan bisnis perusahaan, biasanya kita dapat mengklaim semua pengeluaran sesuai dengan peraturan apabila dapat menunjukkan bukti-bukti pengeluaran tersebut. Pembayaran fiskal, transportasi, hotel, dan makan, asalkan dapat menyerahkan bukti-buktinya perusahaan akan menggantinya. Atau jika diberi panjar perjalanan, maka akan diperhitungkan pada saat pertanggungjawaban panjar. Bagaimana kalau kuitansinya hilang? Apa yang dapat kita lakukan?
balada $100
6 November, 2008I walked around the mall and found that I lost $35. It may be happened when I pick something from the pocket and the money was fallen. Then I release it. When I want to contact someone, I opened the locker to take the phonebook out, I found a $100 lied in it. I’m certainly unsure that the money shouldn’t be there, because I have checked all the locker when checked in. I recounted and confused whether the money is mine or not. What should I do? Then I contact many ustadz to give their opinion based on Islamic teaching about finding money.
terlambat berbuat baik
12 September, 2008Seorang nenek tua renta tertatih menyusuri jalan. Sesaat berhenti untuk menghela nafas, sesaat melangkah penuh payah. Saya duduk di belakang kemudi memerhatikan tingkah laku orang-orang dari jendela mobil yang tersendat merayapi kemacetan. Sosok sang nenek sedari tadi mencuri perhatian di sudut penglihatanku, namun jarak antara mobilku dengannya menyulitkan saya menawarkan bantuan kepadanya. Saat mobilku bersisian dengannya tiba, kucoba membuka jendela dan hendak menanyakan keperluannya. Tetapi seorang perempuan telah lebih dahulu menghampiri sang nenek, meraih tangannya dan mengajaknya pergi. Tinggallah saya memaku diri di belakang kemudi, memandang kaca spion mengikuti kedua sosok tadi pergi. Perempuan muda itu mendahuluiku berbuat baik kepada si nenek tua renta yang kepayahan meniti jalan.
Dalam kemacetan yang berbeda, seorang pengendara motor yang terjatuh dari sepeda motornya, kemudian duduk dan melakukan sendiri pemampatan laju darah di kakinya tanpa seorangpun yang menolongnya. Mata saya menangkapnya sebelum saya menyadari harus ada sesuatu yang saya perbuat untuknya. Ketika saya hendak meminggirkan mobil yang saya kendarai untuk kemudian keluar dan membantunya, beberapa orang mendatangi si pengendara motor dan mengantarkannya ke klinik terdekat. Saya kembali memaku diri, ketika saya tidak berbuat baik kepada yang membutuhkan, Tuhan mengirimkan orang lain untuk berbuat baik kepadanya, dan menyisakan penyesalan pada diri saya.
tak ada macet di houston
6 Juni, 2008saya lupa, bahwa saya tidak sedang menyetir di jakarta, tetapi di houston. bukan setir kanan tetapi setir kiri. walau gas tetap kaki kanan, tetapi lampu sein, wiper, dan kaca spion harus berubah orientasi. ukuran kelajuan juga bukan diukur dengan kilometer tetapi mile, sehingga 60 mph itu bukan 60 kmph tetapi 100 kmph, makanya kok berasa laju sekali.
berartinya kawan
29 Februari, 2008Apalah artinya kawan… mungkin tak banyak di antara kita yang merasakan betapa berartinya kawan. Banyak macam kawan yang dapat kita jalin dalam kehidupan kita, namun berapa banyak kawan berkualitas yang dapat langgeng sampai akhir hayat? Ah terlalu jauh… tetapi ada pelajaran yang dapat kupetik tentang makna kawan dalam perjalananku kali ini.
“hei, gw di surabaya nih, dinner yuk! Ajak keluargamu sekalian ya!” begitu pesan smsku. Berhubung ada beberapa kawan, kuset tiap malam dinner dengan kawan yang berbeda, supaya bisa ngobrol lebih intens sekaligus melepas kangen dengan cara yang berbeda pula.
Tak dinyana, mereka respon luar biasa. Dinner pertama dengan budi-mega, mereka datang di saat gerimis dengan sepeda motor. Surabaya di waktu sore beberapa hari ini selalu disiram hujan. Mereka mengajakku makan “penyet-penyetan” bu Kris yang terkenal dengan sambalnya yang aduhai pedasnya. Mengantarku beli rujak cingur pesanan teman kantor di plasa surabaya. Ngobrol beberapa hal dan kembali ke hotel. Kuajak ngobrol lanjutan di kafe hotel, tetapi sayangnya mereka punya keperluan lain.
Dinner kedua dengan yudis-citra, di saat gerimis juga, tapi kami janjian di tunjungan plaza, pesan hotplate, sambil ngobrol banyak hal, seperti dulu di kantin teknik yang bisa habis semalaman buat ngobrol. Sadar meja-meja foodcourt mulai dibereskan, kami pun menyingkir dan melanjutkan obrolan sampai ke dalam taxi. Sayang juga esok hari kerja, sehingga menghalangi kami mengobrol lebih jauh.
Tak ada yang kurang dari pertemuan dengan mereka, apalagi dinner gratis maunya sih aku yang mbayari tapi mereka bersikeras. Hal yang serupa kudapatkan ketika aku ke balikpapan dan dinner bareng hosna-rani makan di pinggir pantai. Berangkat gelap-gelapan karena rumah kontrakan mereka mati lampu. Sampai malam menikmati roti cannai dan desiran angin pantai. Atau di saat liburan kuliah dulu main ke bandung mengganggu doni yang masih berkutat dengan ujian semester, tetapi sempat ngajak main dan makan keluar sarangnya di asrama masjid salman. Atau dengan mas agung yang rela jemput tengah malam karena baru pulang dari gresik untuk mengajakku makan rawon setan dan keliling surabaya dengan sedannya. Atau dengan asim yang menjamu dan mengenalkanku kehidupan londoners ketika mampir di london, begitupun dengan jacky yang membantuku mengenali calgary.
Kesemua kawanku itu menjamuku begitu istimewa dengan cara mereka masing-masing. Bukan jamuan bisnis yang penuh pamrih, tetapi jamuan persaudaraan yang penuh cinta. Tak satupun yang mau menerima balasanku secara spontan saat itu. Tak hanya dinner gratis yang kudapat, diskusi, wacana, hikmah dan charging atas jiwa juga kudapat dari mereka. Kurasakan betapa berartinya mereka dalam sekilas kehidupanku.
Sejenak menerawang kepada perlakuanku kepada janji-janji pertemuan dengan kawan-kawan di jakarta. Semua hal bisa jadi apologiku untuk tidak datang: hujan gerimis, kemacetan, urusan kantor, dsb. Aku jadi malu dengan diriku sendiri. Perlakuan kawan-kawan terhadapku telah menampar pipiku keras sekali hingga membelalakkan mata bahwa kawan sejati bukan hanya ada di saat kita senang, justru di saat kita membutuhkan, dan mereka tidak berharap pamrih atas apa yang mereka berikan.
Terima kasih kawan-kawanku, i love you all! Juga kepada kawan hidupku yang mendampingi dan mencintaiku sepenuh cinta yang diajarkan Tuhan kepadanya, may Allah always love you more than your love to me
[nd, 28022008]
jualan di craigslist
18 Desember, 2007awalnya cuma mikirin tiket december pass yang dibeli sama koko dan toni, cerita berikutnya malah jadi lucu. kedua temanku itu harus membeli tiket pass supaya tidak perlu bayar setiap naik tram atau bus di calgary selama 2 minggu kursus karena tempatnya yang jauh dari penginapan kami di downtown. jacky mengenalkan kami dengan calgary.craigslist.ca -sebuah situs komunitas online yang menawarkan iklan gratis- untuk mengiklankan tiket pass tersebut barangkali ada yang membutuhkannya.
hari pertama pemasangan iklan sudah ada seorang bernama kelvin yang berminat membeli 2 tiket pass dengan harga $50. harga beli tiket itu $75 per lembar, sehingga kalau dijual dengan harga $25 per lembar tentulah sangat menarik, toni dan koko pun sudah menang pakai selama 12 hari. kami pun janjian ketemu di hari terakhir kami di calgary, jumat siang.
pergi ke negeri kulkas butuh persiapan seperti jacket, celana dan baju hangat sehingga sebelum berangkat ke calgary kami sudah membeli keperluan musim dingin di wintershop toko Lima Enam di ITC mangga dua. karena kabarnya belanja di negara tujuan mahal, lebih baik sudah bawa dari indonesia. persiapan kami ini bukan percuma, karena kedatangan kami di calgary disambut dengan temperatur minus 22 C sehingga semua barang-barang winter kami terpakai.
kecuali snowpants, yang hanya dipakai ketika kami liburan weekend di banff yang banyak saljunya (salju di calgary tidak tebal dan melting karena temperatur kota lebih hangat daripada di perumahan atau di pegunungan). praktis karena tidak terlalu berguna, kutawarkan saja di craigslist dengan harga $50. tak dinyana, seseorang bernama steve berminat dengan celana salju tersebut. ketika hal ini kuceritakan kepada toni dan koko, koko malah berniat menawarkan winter jacket dan snowpant miliknya masing-masing $60 dan $40 dan dari iklan tsb seorang bernama jim tertarik membeli jacketnya. kami pun berkelakar kalau suatu hari nanti pergi ke negeri kulkas lainnya, tinggal belanja lagi aja, kalau bisa dijual lagi sebelum pulang, lumayan nambah uang saku
hasil penjualan di craigslist tersebut: sebuah winter jacket terjual $55, 3 buah snowpant terjual dengan harga berbeda: $35, $25, dan $20, dan 2 buah tiket pass terjual $40. andi dapat komisi $15 dari seluruh penjualan barang yang dimiliki oleh koko dan toni. alhamdulillah…
i’m coming home soon
16 Desember, 2007penerbanganku dari london ke singapore makan waktu kira-kira 12 jam, jam 10 waktu london dan mendarat jam 18 waktu singapore. aku mendapat tempat duduk di 28H terletak di barisan pintu emergeny yang jelas sekali lega buat aku menyelonjorkan kaki. teman perjalananku kali ini seorang perempuan singapore bernama Rachel. ia seorang pebisnis exhibition yang pulang dari meeting di Paris dan Brighton untuk persiapan eksebisi internasional tahun 2008.
dari obrolan awal, seorang cabin crew bernama jeremy ikut nimbrung, jeremy ternyata keturunan indonesia dan suriname yang lahir besar dan tinggal di holland. wah, asyik sekali
tetapi dia tidak bisa berbahasa indonesia atau bahasa jawa, hanya hapal beberapa frasa percakapan saja.
selebihnya penerbanganku terisi dengan tidur, nonton film, meregangkan badan dan melemaskan otot, ke toilet, dan makan makanan yang dihidangkan. asyiknya memesan special request untuk makanan walaupun kita duduk di kelas ekonomi, makanan kita datang lebih dahulu daripada penumpang lainnya. ah, menanti penerbangan berikutnya ke jakarta, kucharge bateri sambil menulis jurnal ini.
Ditulis oleh andi
Ditulis oleh andi
Ditulis oleh andi 