[inspirasi] arti kata

22 Juli, 2008

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa Diknas (bisa dibuka di sini), kata “inspirasi” adalah kata benda yang berarti “ilham”. Sedangkan kata “ilham” sendiri memiliki tiga arti:
1. petunjuk Tuhan yg timbul di hati
2. pikiran (angan-angan) yg timbul dr hati; bisikan hati
3. sesuatu yg menggerakkan hati untuk mencipta (mengarang syair, lagu, dsb)

Nah, teman-teman, jika inspirasi berhubungan dengan hati maka mendapatkannya pun dengan hati. Mari membuka hati…


[inspirasi] kesan pertama di kelas baru

15 Juli, 2008

Teman,
Siapapun pasti pernah merasakan duduk di kelas baru, entah sebagai siswa baru yang masuk ke sekolah baru atau sebagai siswa lama yang ruang kelasnya baru direnovasi :) bahkan sebagai guru yang baru ditempatkan di kelas tersebut. Tentu saja akan banyak kesan pertama terhadap kelas baru tersebut.

Sesuatu yang baru, biasanya akan sangat berkesan. Tak peduli kesan tersebut positif, negatif bahkan menggoda, karena selanjutnya terserah Anda.


rumput tetangga selalu

11 Juni, 2008

bagi yang doyan bertaman, sangat relevan menjaga rumput di halaman rumahnya senantiasa hijau untuk menjaga keasrian. pada beberapa komunitas, diadakan lomba halaman rumah terbaik dan pemenangnya mendapatkan penghargaan. rumput di halaman berikut ornamen dan tanaman hias yang mempercantik taman, menjadi kebanggaan tersendiri bagi pemiliknya. setidaknya ia mendapat hiburan, keteduhan dan ketentraman ketika memandangi rumput di halamannya yang hijau dihiasi bunga-bunga beraneka warna dan bentuk. namun apa jadinya jika ternyata rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau?

selanjutnya nih


antara kartini, bumi dan aku

23 April, 2008

Hampir tak satupun orang Indonesia yang tidak mengetahui bahwa 21 April adalah hari kelahiran Kartini, anak putri Bupati Jepara yang dikokohkan sebagai pahlawan nasional Indonesia karena pemikirannya untuk memperjuangkan pendidikan bagi perempuan. Kartini memang baru menjajaki tararan pemikiran karena Sekolah Kartini baru berdiri 8 tahun setelah meninggalnya beliau. Perjuangan pemikirannya justru terlaksana oleh Dewi Sartika dengan berdirinya Sakola Istri di tahun 1904 (tahun ketika Kartini wafat). Namun malangnya gagasan yang mulia tentang pendidikan bagi perempuan[1][2] diartikan secara sempit sebagai emansipasi.

[baca selanjutnya dong]


berartinya kawan

29 Februari, 2008

Apalah artinya kawan… mungkin tak banyak di antara kita yang merasakan betapa berartinya kawan. Banyak macam kawan yang dapat kita jalin dalam kehidupan kita, namun berapa banyak kawan berkualitas yang dapat langgeng sampai akhir hayat? Ah terlalu jauh… tetapi ada pelajaran yang dapat kupetik tentang makna kawan dalam perjalananku kali ini.

“hei, gw di surabaya nih, dinner yuk! Ajak keluargamu sekalian ya!” begitu pesan smsku. Berhubung ada beberapa kawan, kuset tiap malam dinner dengan kawan yang berbeda, supaya bisa ngobrol lebih intens sekaligus melepas kangen dengan cara yang berbeda pula.

Tak dinyana, mereka respon luar biasa. Dinner pertama dengan budi-mega, mereka datang di saat gerimis dengan sepeda motor. Surabaya di waktu sore beberapa hari ini selalu disiram hujan. Mereka mengajakku makan “penyet-penyetan” bu Kris yang terkenal dengan sambalnya yang aduhai pedasnya. Mengantarku beli rujak cingur pesanan teman kantor di plasa surabaya. Ngobrol beberapa hal dan kembali ke hotel. Kuajak ngobrol lanjutan di kafe hotel, tetapi sayangnya mereka punya keperluan lain.

Dinner kedua dengan yudis-citra, di saat gerimis juga, tapi kami janjian di tunjungan plaza, pesan hotplate, sambil ngobrol banyak hal, seperti dulu di kantin teknik yang bisa habis semalaman buat ngobrol. Sadar meja-meja foodcourt mulai dibereskan, kami pun menyingkir dan melanjutkan obrolan sampai ke dalam taxi. Sayang juga esok hari kerja, sehingga menghalangi kami mengobrol lebih jauh.

Tak ada yang kurang dari pertemuan dengan mereka, apalagi dinner gratis  maunya sih aku yang mbayari tapi mereka bersikeras. Hal yang serupa kudapatkan ketika aku ke balikpapan dan dinner bareng hosna-rani makan di pinggir pantai. Berangkat gelap-gelapan karena rumah kontrakan mereka mati lampu. Sampai malam menikmati roti cannai dan desiran angin pantai. Atau di saat liburan kuliah dulu main ke bandung mengganggu doni yang masih berkutat dengan ujian semester, tetapi sempat ngajak main dan makan keluar sarangnya di asrama masjid salman. Atau dengan mas agung yang rela jemput tengah malam karena baru pulang dari gresik untuk mengajakku makan rawon setan dan keliling surabaya dengan sedannya. Atau dengan asim yang menjamu dan mengenalkanku kehidupan londoners ketika mampir di london, begitupun dengan jacky yang membantuku mengenali calgary.

Kesemua kawanku itu menjamuku begitu istimewa dengan cara mereka masing-masing. Bukan jamuan bisnis yang penuh pamrih, tetapi jamuan persaudaraan yang penuh cinta. Tak satupun yang mau menerima balasanku secara spontan saat itu. Tak hanya dinner gratis yang kudapat, diskusi, wacana, hikmah dan charging atas jiwa juga kudapat dari mereka. Kurasakan betapa berartinya mereka dalam sekilas kehidupanku.

Sejenak menerawang kepada perlakuanku kepada janji-janji pertemuan dengan kawan-kawan di jakarta. Semua hal bisa jadi apologiku untuk tidak datang: hujan gerimis, kemacetan, urusan kantor, dsb. Aku jadi malu dengan diriku sendiri. Perlakuan kawan-kawan terhadapku telah menampar pipiku keras sekali hingga membelalakkan mata bahwa kawan sejati bukan hanya ada di saat kita senang, justru di saat kita membutuhkan, dan mereka tidak berharap pamrih atas apa yang mereka berikan.

Terima kasih kawan-kawanku, i love you all! Juga kepada kawan hidupku yang mendampingi dan mencintaiku sepenuh cinta yang diajarkan Tuhan kepadanya, may Allah always love you more than your love to me 

[nd, 28022008]


get yourself proud of your country

8 Desember, 2007

embarrassing, if you find your country is so corrupt, poor, bad managed, no hope, not champion, and so on. you may not be proud of it, and cover your face wherever you go. you may be so ashamed to be your country’s citizen. and hopeful to go to the moon as you can’t find any place in this world good enough to fulfill your expectation.

wow, if you find yourself are in the middle of nowhere like above, what would you do?

i suggest you not to think much about it, it wouldn’t help you out of those condition. the best you can do to get out of those are wake up and do anything good you can do for your country, at least for yourself. stop wishing and dreaming, the time is running out while you’re sleeping.

don’t ever think what your country can offer you, but do whatever you can do for your country, at least for yourself.


kasus bullying dan pemberitaan lebay

15 Nopember, 2007

(belajar dari kasus geng di sman 34) 

sejak kasus sman 34 jadi headline kompas minggu 11 november 2007 lalu, milis-milis dan forum online yang dikelola oleh alumni dan siswa sman 34 ramai dengan thread diskusi. ada yang bertanya-tanya, ada yang mengecam, dan ada yang mencoba mengurai permasalahan, ada yang mencoba mengklarifikasi, bahkan ada yang bersaksi mengenai kejadian sebenarnya berdasarkan apa yang diketahui. tentu saja hal itu bermanfaat bagi keluarga alumni sman 34 karena mendapat informasi yang lebih valid daripada informasi berlebih-lebihan yang terdapat di media massa.

terus terang, pemberitaan “lebay” (baca: berlebih-lebihan) oleh media massa lebih sering berasal dari pihak “korban”, namun sedikit sekali yang berasal dari pihak “pelaku” atau counter part-nya. pemberitaan tidak seimbang akan membuat opini yang tidak sehat dan cenderung pointing finger kepada tersangka. padahal belum tentu semua yang diungkapkan oleh “korban” adalah kenyataan di lapangan. karena “korban” sendiri secara sadar lebih tepat menjadi korban dari persepsi dirinya sendiri atau pelapor (yang notabene adalah ayah “korban”).

ayah mana yang tak tergerak untuk melaporkan kepada pihak berwajib apabila menemukan keganjilan pada anaknya? tentu saja ini wajar. namun jika harus menjadi berita nasional yang dampaknya memperburuk citra sekolah, walaupun pada awalnya “hanya” berniat mengungkapkan adanya “geng” dan “kenakalan” remaja siswa sman 34 (dimana anaknya bersekolah), tentu saja ini menjadi berlebihan. apalagi dengan kelakuan aneh para pencari warta, yang pengen denger sendiri kesaksian “korban” akhirnya malah menjadi bumbu penyedap yang bikin gerah para alumni sman 34.

akhirnya ada beberapa alumni sman 34 menjadi informan para pencari warta, dengan maksud bermacam-macam. tentu saja “kepedulian” seperti ini diperlukan untuk mengembalikan citra positif sman 34. namun bukan aneh apabila ada saja oportunis yang justru memperburuk keadaan dengan membongkar kisah yang seharusnya hanya jadi “rahasia keluarga”. tanpa sadar pemberitaan yang semakin heboh ini menjadi perbincangan berbagai kalangan yang lebih luas, memperburuk keadaan dan tentu saja akan menguatkan eksistensi kepopuleran “korban” dan ayahnya.

dengar-dengar, gubernur dki akan makan es campur (baca: mendukung) “pembasmian” geng yang ada di sman 34 itu. waduh! benar-benar “lebay” !!!

apakah pak gubernur yang terhormat sudah selesai dengan program 100 hari mengatasi kemacetan dan banjir?

lalu apa langkah selanjutnya untuk kasus ini?
perilaku “kriminal” para tersangka memang patut ditindak secara hukum, namun asas peradilan yang berimbang harus mendampingkan para tersangka dengan bantuan hukum supaya mereka mendapat keadilan dari “fitnah” (baca: bumbu-bumbu berita) yang disebarkan media.

perlu ketegasan dari pihak sekolah mengenai sikap mereka menghadapi kasus semacam ini. sudah seharusnya pihak sekolah membangun kembali komunikasi yang baik dengan siswa. terus terang, munculnya geng dan kelakuan aneh siswa dapat saja dipicu oleh kebijakan sekolah yang menuntut teralalu banyak dari siswa, sedangkan potensi siswa sebenarnya tidak diapresiasi dengan baik oleh sekolah.

perlu dukungan lebih baik dari alumni sman 34 yang masih peduli untuk melakukan langkah nyata dalam memperbaiki “kaderisasi” kebaikan kepada para siswa sman 34 dan membangun komunikasi yang baik dengan pihak sekolah, bahwa: “ini lho, para alumni berniat baik dan mendukung sekolah”.

perlu kebijaksanaan para orang tua siswa untuk melihat permasalahan lebih komprehen. bangun komunikasi yang positif dengan anak-anak mereka, sehingga tidak perlu “menunggu” tiga bulan untuk mengendus “keganjilan” perilaku anaknya. tindakan represif ortu kepada anaknya dapat menjadi sikap bullying, karena memaksa anak menuruti kehendak ortu. padahal secara fisik dan kejiwaan, usia sma sudah bukan anak-anak lagi, tetapi orang dewasa yang memiliki pemikiran dan pilihan sendiri. di sinilah peran ortu untuk mengarahkan, bukan memaksakan, supaya perjalanan hidup anaknya lebih mengarah positif dan bermakna.

terakhir, perlunya menghentikan ulah para pencari warta dalam membesarkan kasus internal keluarga sman 34 ini. karena ulah mereka sama sekali tidak menyelesaikan permasalahan, justru memperburuk keadaan. serahkan saja kepada pihak-pihak yang “bertikai” untuk berdamai. toh mereka bukan selebriti, selebriti seperti Roy Marten saja butuh privasi apalagi para pelaku kasus ini?

ah, tulisan ini hanya segelintir pemikiran dari seorang alumni sman 34.
[andi]