“…Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS An-Nisaa’, 4:19)
days without mom
26 Desember, 2008these two days were hard time for me to taking care our children without their mother. my two and a half years son was on his very active season and need for attention so much. while my two months daughter was still breastfed. i just couldn’t imagine what’s gonna be if their mother went for a while for a business trip.
suami gak sholat
26 November, 2008sebuah sms masuk di hp dan berbunyi: “maaf ganggu… boleh ga ngajuin cerai karena alasan tidak lagi rajin kerjakan sholat?“
sontak saja saya kaget dengan pertanyaan yang sederhana tetapi berat. pertanyaan ini sebenarnya untuk istri saya dari temannya, berhubung pesannya ke hp saya, saya kira akan terlalu lama apabila dia harus menunggu jawaban dari istriku nanti malam. “apakah sudah diingatkan?” begitu balasan smsku.
selanjutnya ya
pamitan ke anak
12 Oktober, 2008barangkali tidak sedikit ortu yang tidak pamitan kepada anak-anaknya ketika pergi meninggalkan mereka, padahal para ortu itu sering memaksa anak untuk pamitan setiap kali mereka pergi keluar rumah. Begitu banyak alasan dibuat oleh ortu untuk tidak pamitan, terutama apabila anak tersebut masih balita.
“Kalau pamitan, nanti anakku minta ikutan. Kalau ikut biasanya bikin ulah.”
“Kalau pamitan, anakku bikin segala cara untuk membujukku terus bersamanya sehingga aku gak bisa pergi.”
Begitu di antara alasan ortu, padahal anak mencontoh orangtuanya. Bagaimana mereka akan pamitan kepada ortu jika mereka tidak pernah melihat ortunya pamitan kepada mereka? Bagaimanapun anak balita adalah manusia yang sedang belajar. Mereka mampu memahami ortu lebih daripada ortu memahami mereka. Kerewelan yang mereka buat hanyalah cara supaya ortu lebih memerhatikan mereka, seakan-akan mereka mau bilang ke ortunya: “Kalian sudah menjadi orangtuaku, kalian harus bertanggung jawab mendidikku mengerti tata krama dalam menjalani kehidupan dunia.”
—
thanks to raka for being our inspiration
[keluarga] confession
31 Juli, 2008Tersadar di dalam sepiku, setelah jauh melangkah.
Cahaya kasihmu, menuntunku kembali dalam dekap tanganmu.
Terima kasih cinta untuk segalanya, kau berikan lagi kesempatan itu.
Tak akan terulang lagi semua kesalahanku, yang pernah menyakitimu.
Tanpamu tiada berarti, tak mampu lagi berdiri.
—
Lagu Terima Kasih Cinta yang dinyanyikan oleh Afgan dalam album Confession No. 1 tersebut menjadi populer karena liriknya yang jujur dan lantunan musiknya yang menggugah perasaan. Keterbukaan sangat diperlukan dalam rumah tangga, jika tidak biduk yang kita kayuh serasa
hampa mengarungi masa.
Kesalahan manusia terhadap Tuhannya tentu dihapuskan dengan cara taubat yaitu pengakuan dan tidak mengulanginya lagi. Maka kesalahan sesama manusia dihapuskan dengan saling terbuka, jujur, percaya, dan saling memaafkan. Mudah-mudahan kehangatan berumah tangga menjadi keseharian dalam hidup kita.
[pendidikan] Raka belajar jajan
24 Juli, 2008Sejak mengenal warung, tukang jualan dan barang-barang dagangan yang menarik, Raka, dua tahun, sering meminta untuk dibelikan. Bukannya melarang dia untuk jajan, tetapi kami melihat bahwa kebiasaan jajan tidak baik dan dapat membuka pintu kemana saja, alias urusan berikutnya akan panjang. Awalnya kami sendiri yang memilih jajanan terbaik buat raka, tetapi kami sadar bahwa Raka juga punya keinginan, sehingga kami berikan kesempatan baginya untuk memilih jajanan yang disukainya. Mobil-mobilan adalah favoritnya, kemudian chip cokelat yang dimakan dengan susu cair, batang cokelat, hingga makanan ringan yang banyak MSG-nya. Untuk kategori terakhir, tentu saja kami sangat membatasi konsumsinya, hanya sesekali dan tidak sering-sering.
[keluarga] hadapi dengan senyum
23 Juli, 2008Teman,
sesungging senyuman ternyata dapat menyembuhkan duka lara di hati kita yang gundah gulana. Ketika kedatangan kita ke rumah disambut dengan senyuman oleh anak-anak dan pasangan hidup kita, lepaslah segala penat yang membebani pundak dan kepala kita. Ketika kepergian kita bekerja dilepas dengan senyuman oleh mereka, ringanlah setiap langkah kaki menuju tempat kita mencari nafkah.
Keluarga menjadi tempat yang paling indah setelah seharian berpeluh dengan kerja, intrik, siasat, dan politik. Senyuman yang tulus menjadi pelega dan penghangat suasana. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa tidak selamanya keluarga kita mampu menghadirkan senyumnya untuk kita. Adakalanya pasangan hidup dan anak-anak menambah beban pikiran dengan ulah dan masalah mereka.
Pada saat itulah kita menyadari bahwa tidak hanya kita yang memiliki permasalahan hidup. Setiap anggota keluarga adalah pribadi yang juga memiliki permasalahan hidup masing-masing. Apalagi anak-anak kita yang sedang belajar menyelesaikan masalah, merangkak untuk menjadi manusia seutuhnya, membutuhkan bantuan orangtua mereka, setidaknya sebuah senyuman.
Mari hadapi permasalahan keluarga dengan senyuman, dan selamat Hari Anak Nasional 2008!
Ditulis oleh andi
Ditulis oleh andi
Ditulis oleh andi 