Terjemah Aqidah Wasithiyah – 02

25 Januari, 2012

TERJEMAH AL-AQIDAH AL-WASITHIYYAH
Penulis: Asy-Syaikh Al-Islam Taqiyyuddin Ahmad Ibn Abdul Halim Ibn Taimiyyah

[sebelumnya]

6. Dan Allah subhanahu wata’ala sesungguhnya telah mengumpulkan ke dalam sifat-sifat-Nya dan menamakan diri-Nya dengan sifat-sifat itu, antara penafian dan penetapan. Maka tidaklah keluar dari perkara tersebut, Ahlussunnah wal Jama’ah, terhadap apa-apa yang datang dari para rasul; maka sesungguhnya inilah jalan yang lurus, jalannya orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah atas mereka dari golongan para nabi, orang-orang yang shiddiq, para syuhada, dan orang-orang shalih.

7.  Dan sesungguhnya masuk kepada kalimat ini (penafian dan penetapan) apa-apa yang disifatkan oleh Allah bagi diri-Nya di dalam surat Al-Ikhlash yang pahalanya menyamai sepertiga Alquran, Allah berfirman:

“Katakanlah: Dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah tempat bergantung (kepadanya) segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula menjadi anak. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS Al-Ikhlash: 1-4)

 [Allah menetapkan bagi diri-Nya bahwa Dia Maha Esa, dan sebagai tempat bergantung segala sesuatu yaitu harapan, doa, cinta, dan rasa takut. Allah menafikan bagi diri-Nya memiliki anak, menafikan bahwa dia sebagai anak, menafikan adanya sesuatupun yang setara dengan-Nya. ed]

8. Dan di antara apa yang Allah sifati bagi diri-Nya adalah pada ayat yang paling agung di dalam Kitab-Nya, yakni ketika Allah berfirman:

“Allah adalah Dzat yang tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia, yang Mahahidup lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan Dia apa yang terdapat di langit dan apa yang terdapat di bumi. Tidak seorang pun yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya. Yang paling mengetahui apa yang berada di hadapan mereka maupun di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dari ilmu-Nya melainkan sesuai dengan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa terbebani memelihara keduanya. Dan Dia Mahatinggi lagi Mahaagung.” (QS Al-Baqarah: 255)

Oleh karena itu, barangsiapa yang membaca ayat ini pada malam hari maka senantiasa ia akan mendapatkan penjagaan dari Allah dan setan tidak bisa mendekatinya hingga masuk pagi.

{bersambung, Insya Allah}


bad news always travel fast

24 Januari, 2012

Bertempat tinggal di United States of America, kaum imigran muslim harus pandai-pandai menjaga diri, jika tidak berbaur dengan masyarakat pada umumnya maka dengan tidak membuat masalah di lingkungan saja sudah cukup bagus. Stigma masyarakat yang liberal dan beberapa di antaranya fundamentalis kristen dengan segala sektenya, masih memandang buruk citra muslim, apalagi sejak peristiwa 9-11 sepuluh tahun yang lalu. Sayangnya kaum imigran muslim dari berbagai penjuru dunia ini tidak hanya membawa identitas muslimnya, namun juga membawa identitas kesukuan serta mazhab agama yang dianutnya. Dengan demikian, gesekan di antara sesama muslim pun dimungkinkan terjadi jika tidak bijaksana dalam bersikap. Dan ketika friksi itu memanas, maka yang dirugikan tentulah komunitas muslim sendiri.

Oleh karena menyadari bahwa berita buruk selalu mengembara lebih cepat, maka seruan kepada Islam yang satu didengungkan oleh berbagai kelompok muslim yang ada di Amerika Serikat. Mereka menyerukan kebaikan-kebaikan untuk bersama-sama membangun citra Islam yang baik di dunia barat, dengan berupaya menafikan semua perbedaan dan menguatkan semua persamaan. Persamaan yang dimaksud tentulah persamaan akidah dan ibadah. Segolongan umat menyerukan untuk menghidupkan kajian-kajian quran dan sunnah, tahfizh quran, pelayanan ibadah, dan gerakan sosial. Menghidupkan budaya nasehat menasehati sesama muslim dalam rangka menjaga persatuan dan kesatuan. Walaupun tak jadi heran, karena yang menyambut ajakan tersebut hanya segelintir orang saja.

[muslim in america, 02Aug2011]


masjid around Houston

24 Januari, 2012

I was sent by my company to take a short course for two weeks in Houston, TX, USA at the end of July 2011 to the first week of August 2011. As my habit when traveling is to find masjid nearby the place where I staying. I found that there are two masjid which are not far from hotel. First is Makkah Masjid which is laid on 3505 South Dairy Ashford Road. The masjid is in a commercial building, it’s interior is a spacious hall which can be divided into two temporary rooms for gentleman’s hall and ladies’ hall. I conduct my magrib prayer there. Some Pakistani have a chat in the corner. Many books laid on it shelf, are quranic books

The second masjid is Masjid Muhammadi which is laid on 11830 Corona Lane. The masjid is a big house with many function rooms. The prayer hall is also spacious too, divided into two hall, each for women and men. Compare to Makkah Masjid, Masjid Muhammadi is more simple with less ornament (or calligraphy). The library is set in the room next to prayer hall. I conduct my isya prayer there, and later for juma’a prayer and tarawih. A Bengali man recognise my face as a malay ethnic, as he was ever stayed for about 2 year in Malaysia. I went for tarawih at this masjid, because they conduct the prayer in sunnah way. In this masjid where I first became acquainted to my new friends, Yunus brothers.

There is the third masjid, Makki Masjid which is laid on 9651 Bissonnet St. Suite 306. I found this masjid when I met my relatives who went there looked for muslimah clothings. This masjid is simply a spacious prayer hall with the neighborhood of an arabic tailor store, a jerusalem art and book store, a tattooing store, and a not anymore active halal restaurant.

I was told that in America, muslim can only build their community and the worship place in the greater area out of the city central. And this policy applied also to the other communities, so that’s explain why the store next door to the islamic bookstore is a tattooing store.

[muslim in america, 05Aug2011]


lampu antik

22 Januari, 2012

Ketika saya hendak membeli lampu gantung antik, pedagangnya memberikan lampu gantung baru yang bermodel antik. Saya komplen karena tidak sesuai dengan keinginan saya. Setelah mendebatnya tanpa titik temu, akhirnya si pedagang dengan kesal mengatakan, “Bapak mau lampu gantung antik, kan? Bapak biarkan saja, nanti lama-lama juga jadi antik.” :)
[KH. Hasyim Muzadi]


Terjemah Aqidah Wasithiyah – 01

22 Januari, 2012

TERJEMAH AL-AQIDAH AL-WASITHIYYAH
Penulis: Asy-Syaikh Al-Islam Taqiyyuddin Ahmad Ibn Abdul Halim Ibn Taimiyyah

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

1. Segala puji bagi Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar diunggulkannya di atas seluruh agama dan cukuplah Allah sebagai saksi.

2. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang patut disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, yaitu dengan pengikraran dan penuh ketauhidan.

3. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, semoga shalawat dan salam senantiasa Allah curahkan kepadanya dan kepada keluarganya juga para sahabatnya dengan keselamatan yang berlebih.

Amma ba’du:

4. Maka [yang akan disebut dalam risalah] inilah i’tikad golongan yang selamat yang mendapat pertolongan hingga datangnya hari kiamat: Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Yaitu beriman kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, kebangkitan setelah kematian, dan iman kepada takdir baik dan takdir buruk.

5. Dan termasuk bagian iman kepada Allah adalah: beriman kepada sifat-sifat yang disebutkan oleh Allah di dalam kitab-Nya, dan kepada sifat-sifat yang disebutkan oleh rasul-Nya tanpa melakukan tahrif [menyimpangkan sifat-sifat Allah (di dalam Alquran dan Assunnah) kepada makna-makna batil yang bukan makan sifat itu], tidak pula ta’thil [meniadakan sifat-sifat ilahiah dan mengingkari keberadaan sifat-sifat itu pada zat Allah], dan tidak melakukan takyif [meyakini sifat Allah berbentuk demikian atau mempertanyakan bentuknya], dan tidak pula tamsil [meyakini sifat Allah seperti sifat makhluk].

Melainkan mereka (Ahlussunah wal jamaah)   beriman bahwasanya Allah: “Tidak ada sesuatupun yang menyerupai dengan-Nya, dan Dia Maha mendengar dan Maha melihat” (QS Asy-Syura :11)

Maka mereka (Ahlussunah wal jamaah) tidak meniadakan dari Allah sifat-sifat yang disifatkan-Nya untuk diri-Nya. Tidak pula mereka menyimpangkan pembicaraan dari tempat (yang semesti)nya. Tidak pula menyimpangkan dan mengingkari pada nama-nama Allah dan ayat-ayat-Nya. Tidak pula membagaimanakan dan tidak pula menyerupakan sifat-sifat-Nya seperti sifat makhluk.

Yang demikian karena Mahasuci Allah dan tidak ada tandingan (yang berhak untuk dinamai dengan) nama-Nya [yakni dengan nama yang memiliki makna hanya khusus bagi Allah, yang tidak sesuatupun yang menyamai-Nya], tidak memiliki pihak yang sekufu (setingkat) dengan-Nya, tidak ada lawan bagi-Nya, dan tidak boleh dikiaskan dengan makhluk-Nya, Mahasuci Allah lagi Mahatinggi.

Maka sesungguhnya Mahasuci Allah yang paling mengetahui akan diri-Nya dan yang selain daripada-Nya, dan paling benar perkataan-Nya, dan paling bagus ucapan-Nya dibandingkan dengan makhluk-Nya.

Kemudian para rasul-Nya adalah orang-orang yang benar (jujur) dan dibenarkan, berbeda dengan orang-orang yang mengatakan pada permasalahan ini dengan apa-apa yang tidak mereka ketahui. Oleh karena itu Allah berfirman:

“Mahasuci Tuhanmu, Tuhan yang memiliki keperkasaan, dari apa-apa yang mereka sifatkan. Dan kesejahteraan dilimpahkan bagi para rasul. Dan segala puji-pujian hanyalah milik Allah Tuhan seru sekalian alam. (QS As-Shaffat 180-182)

Dengan demikian Allah telah mensucikan diri-Nya dari apa-apa yang disifatkan kepada diri-Nya oleh orang-orang yang menyelisihi (menentang) para rasul. Dan Dia menyelamatkan para rasul; karena selamatnya apa yang mereka ucapkan dari kekurangan dan aib.

{bersambung, Insya Allah}


jagalah lisan dan mata

10 Januari, 2012

Imam Asy-Syafi’i berkata dalam salah satu syairnya:

لِسَانَكَ لا تَذْكُرْ بِهِ عَورَةَ امرئ ** فَكلُّكَ عَـوْرَاتٌ وَلِلنَّـاسِ أَلْسُــنُ

وَعَـينكَ إنْ أَبْـدَتْ إَلَيكَ مَعَـايِباً ** فَصُنْهَا وَقُلْ يَاعَيْنُ لِلنَّاسِ أَعْينُ

Janganlah lisanmu menyebut aurat orang lain
Sedangkan engkau menutupi auratmu dan semua orang punya lisan.
Jika matamu melihat dosa-dosa yang diperbuat saudaramu
Tutupilah dan katakan: “Wahai mataku! Semua orang punya mata!”


berkasih sayanglah

5 Januari, 2012

“Wahai ahlussunnah, bersikap kasih sayanglah di antara sesama kalian, sesungguhnya ahlussunnah itu sedikit.” [Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah]

“Apabila sampai berita kepadamu orang yang berakidah ahlussunnah di negeri belahan timur bumi, begitu pula di belahan barat, sampaikan salam kepadanya dan doakan kebaikan kepadanya, karena begitu sedikitnya ahlussunnah.” [Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah]


Mengajak ke jalan Allah

1 Januari, 2012

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS An-Nahl, 16:125)

Setelah memahami syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang sebelum ia berdakwah kepada manusia, hendaklah pendakwah itu mengetahui bahwa Allah telah memberikan arahan bagaimana dakwah disampaikan kepada manusia:

  1. hikmah. Seorang dai harus mengetahui kondisi obyek dakwahnya dan menyampaikan ilmu kepada mereka dengan bijak, sesuai dengan porsi ilmu yang dapat diterima dan dipahami. Hikmah disampaikan kepada obyek dakwah yang jahil (tidak berilmu) namun dapat menerima kebenaran tanpa penolakan. Seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah ketika menghadapi seorang badui yang kencing di pojokan masjid.
  2. pelajaran yang baik. Ada obyek dakwah yang melakukan ibadah dengan cara yang menyimpang dan enggan menerima kebenaran, kepada mereka dai menyampaikan ilmu dengan memberikan kabar gembira (motivasi) dan peringatan (ancaman).
  3. bantahan. Sebagian obyek dakwah berpaling dari dan menentang kebenaran, kepada mereka dai dapat membantah atau mendebat dengan cara yang lebih baik dan memberikan kepuasan sehingga menerima dan berpaling kepada kebenaran.

Mendebat hanyalah dianjurkan dan dipuji apabila dengannya dan atas pertimbangan maslahat akan membela agama. Mendebat akan dicela dan tidak diperkenankan apabila membantah dengan hal yang batil bahkan melenyapkan kebenaran (QS 18:56), apabila membantah suatu kebenaran yang sudah nyata (QS 8:6), dan apabila membantah tanpa ilmu yang mumpuni (QS 3:66).

Atas dakwah yang dilakukan oleh seorang pendakwah, hendaklah ia kemudian memahami bahwa kewajibannya hanyalah menyampaikan ilmu dan mengajak manusia ke jalan Allah. Sedangkan bagaimana kondisi obyek dakwah setelah ilmu itu disampaikan, adalah urusan Allah:

 إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl, 16:125)

http://www.ziddu.com/download/18030199/PV_UshulutTsalatsah_UstAbdullahSyaroni_07.mp3.html


terompet dan radya

1 Januari, 2012

kemarin sore Radya, minta uang  kepada babanya untuk beli terompet, lalu dijelaskan oleh babanya bahwa terompet itu bukan kebiasaan orang Islam, tapi kebiasaan yahudi, lagi pula meniup terompet bersuara berisik dan mengganggu orang lain yang sedang istirahat. anak usia 5 tahun itupun menerima dan pergi. beberapa saat kemudian kembali lagi bersamaan dengan suara penjaja bapau, lalu ia berkata: “Baba, kalau uangnya buat beli bapau boleh ga?” :D


tanda-tanda bermanfaatnya ilmu

21 Desember, 2011

Benarlah apa yang disampaikan oleh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitab beliau Fadl Ilm Salaf ala Ilm Khalaf, bahwa sedikitnya perkataan ulama terdahulu bukan karena sedikitnya ilmu mereka, melainkan karena begitu besarnya keilmuan dan hikmah yang mereka miliki. Al-jawami’ul kalim adalah keistimewaan mereka, mengikuti guru yang mulia, Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa alihi wasalam- yaitu perkataan yang ringkas namun dalam dan luas maknanya. Berikut ini adalah tanda-tanda bermanfaatnya ilmu yang dipelajari dan disandang oleh seseorang:

Ia akan beramal dengan ilmunya. Ia benci disanjung, dipuji dan takabbur atas orang lain. Ia semakin bertawadhu’ ketika ilmunya semakin banyak. Ia menghindar dari cinta kepemimpinan, ketenaran dan dunia. Ia menghindar untuk mengaku berilmu. Ia bersu’udzan (buruk sangka) kepada dirinya dan husnudzan (baik sangka) kepada orang lain dalam rangka menghindari celaan kepada orang lain.

Sedangkan orang yang tidak bermanfaat ilmunya, atau yang tidak mendapatkan faidah dari ilmu yang bermanfaat, maka tanda-tandanya adalah:

Ia tumbuhkan sifat sombong, sangat berambisi dalam dunia dan berlomba-lomba padanya, sombong terhadap ulama, mendebat orang-orang bodoh, dan memalingkan perhatian manusia kepadanya. Bahkan mengaku sebagai wali Allah subhanahu wa ta’ala. Atau merasa suci diri. Ia tidak mau menerima yang hak dan tunduk kepada kebenaran, dan sombong kepada orang yang mengucapkan kebenaran jika derajatnya di bawahnya dalam pandangan manusia, serta tetap dalam kebatilan. Ia menganggap yang lainnya bodoh dan mencacat mereka dalam rangka menaikkan dirinya di atas mereka. Bahkan terkadang menilai ulama terdahulu dengan kebodohan, lalai, atau lupa sehingga hal itu menjadikan ia mencintai kelebihan yang dimilikinya dan berburuk sangka kepada ulama yang terdahulu.

Semoga Allah melimpahkan ilmu yang bermanfaat bagi kita dan menjauhkan kita dari sifat-sifat orang yang tidak mampu mengambil faidah dari ilmu yang bermanfaat.

http://www.ziddu.com/download/17664135/MF_CiriOrangBerilmuNafi_UstMuhammadAsSewed.mp3.html


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.